Alex Autobiography

Sumber image
Namaku Alex, sekarang aku berusia 22 tahun. Aku masih terbaring di rumah sakit terbesar di Samarinda. Aku adalah seorang pasien kangker mulut dan tenggorokan stadium IV. Kamu tau? Hanya 1 dari 100 orang yang bisa selamat dari kondisi seperti ini. Dokter bilang kalau tidak ada lagi keajaiban, harapan hidupku kurang dari satu tahun.

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin menulis autobiografi pendekku. Karena aku tau, nggak akan ada orang yang sudi menuliskan kisah hidup orang gagal. Aku tak ada bedanya dengan sampah. Aku sudah siap mati dengan tidak terhormat. Bukan karena ikut perang atau membela agama, tapi karena perbuatanku sendiri.

Dulu saat berumur sebelas tahun. Mendi, teman baikku menawari rokok untuk pertama kalinya. Sambil merokok dia melangkahkan kaki kerarahku yang sedang mengunyah permen karet di sawah sambil melihat buruh yang sedang menggali tanah untuk menamam singkong.

“Lex, udah pernah ngerokok belum? Kamu harus coba. Enak banget”
“Rokok kan bahaya, lagian apa coba enaknya makan asap”
“Bahaya? Rokok itu simbol laki Lex. Buat penyemangat. Liat aja tuh tukang disana, buktinya mereka tambah kuat kerjanya kan?”. Dia menunjuk buruh yang kebetulan sedang merokok.
“Iya juga. Sini aku coba”



Mulai saat itu aku adiktif dengan rokok. Biasanya aku menghisap 2 batang rokok setiap harinya sepulang sekolah di belakang rumahku yang sebesar stadion sepak bola. Aku nggak takut ketahuan karena Mama dan Papa sibuk kerja di kantor mereka masing masing. Hanya ada pembantu yang setiap siang datang untuk membersihkan rumah. Kondisi rumah yang mewah ini terasa makin sepi karena aku merupakan seorang anak tunggal.

Hidupku semakin berantakan saat kuliah di Jakarta. Sekarang bukan cuma rokok. Aku senang mabuk mabukan sampai pulang pagi. Temanku pernah bilang, Selagi muda hidup dinikmati aja bro. Kalau lo udah tua, lo gak bakal lagi bisa kayak beginian.

Kalimat itu terdengar seperti pembenaran buatku. Walaupun sering mendapat teguran dari kampus, aku nggak peduli. Tubuh ini benar benar menolak, aku nggak kuat kalau harus pergi ke kampus pagi hari karena bagiku pagi adalah waktunya untuk tidur. Sampai aku DO pada semester 4.

Sampai dirumah Mama yang dari dulu nggak pernah peduli dengan anaknya sendiri  ternyata masih tetap menerimaku. Itu yang paling membuat aku menyesal telah mengecewakan mereka. Jujur, aku merasa bersalah.

“Nak, itu bibirmu kenapa? Kamu kok lebih pucat Lex?”
“Nak, jawab pertanyaan Mama. Kamu kenapa?”
“Nggak, ini sudah dari dulu”
“Pokoknya nanti malam kita harus kedokter. Mama nggak mau kamu kenapa kenapa”

Malam itu setelah check up, mata Mama terlihat sembab ketika keluar dari ruang dokter. Suasana mendadak hening. Aku menjadi takut dengan apa yang telah terjadi.

“Gimana Ma? Baik baik aja kan?” aku mencoba menutupi kecemasanku.
“Enggak Lex, kamu harus tau ini.”
“Iya tapi tau apa Ma? Alex baik baik aja kan?” wajahku terasa panas. Aku semakin takut dengan kondisiku.
“Lex, kamu penyakit kangker mulut stadium III. Itulah kenapa bercak yang sekarang ada di mulutmu nggak bisa hilang. Hidupmu tinggal menunggu keajaiban Lex”

Mendengar perkataan Mama, aku tak dapat menahan air mata, tubuhku menjadi batu. Inilah hasil dari apa yang aku lakukan selama ini, aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku merasa tidak berbeda dengan sampah yang harus dibuang..

Sekarang demi merawatku Mama sampai berhenti kerja, sementara Papa selalu menjenguk sebelum dan sepulang kerja. Tetapi semuanya terasa tawar, terasa hampa.

Sekarang hidupku kurang dari satu tahun kawan. Aku sudah bosan dengan infus yang menempel di tangan ini. Terima kasih buat kalian yang telah membaca autobiografiku ini. Aku harap kalian tidak menjadi zombie sepertiku. Bermanfaatlah bagi orang lain kawan.
  
Dengan penuh penyesalan,
Alex Hindarto

*Tulisan ini disertakan di lomba diary sang  zombigaret dari zombigaret*

Comments

  1. Ini beneran autobiografi atau gimana kuh ? Kok rasanya kurang panjang ya kalo disebut autobiografi? ._.
    Tapi secara garis besarnya sih nih cerita ngasih kesan tersirat kalo kita emang gak boleh merokok n minum - minuman keras, inspiatif bangetlah pokokya.

    Ngeri banget gitu sampe kena kanker mulut, stadium 3 lagi -_-

    Betewe, semangat ye lombanya semoga menang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena jumlah karakter di lombanya dibatasi fan.. wah, ternyata aa pesan tersiratnya juga ya cerpen kayak ginian hahaha

      Delete
  2. kayak gini ya autobiografy itu ?? setahu aku sih ulasannya panjang gitu. perjuangan untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini lumayan gigih dan untuk level cerita diary sangat kena buat pembaca kayak gue. smeoga menang dan gak ada yang terkena penyakit mematikan ini. AMIN. jaga kesehatan yg terpenting

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan, ini lebih tepatnya mini autobiografi. mini banget malah.
      eh iya, tapi cerita ini nggak ada diceritain sembuh dari penyakit loh~

      Delete
  3. Ini autobiografi ya? berarti kisah nyata penulis dong ya. ini bg alex beneran kena kanker mulut atau cuma cerita doang untuk lomba. *bingung
    Tapi dari cerita diatas sih banyak pesan moril yang bisa diambil khususnya buat remaja yang masih mencari jati diri dan suka kepengaruh. Biar mereka ngerti akan bahayanya rokok, minum-minuman keras dan ga akan pernah untuk mencobanya. soalnya, anak Smp yang kebetulan aku tentorin aja udah merokok. katanya buat ngilangin stres. Gimana ya nasehatinnya lagi supaya mau berhenti ngerokok?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini cuma fiksi kok.. bener banget.
      hak mereka sih untuk ngerokok apa enggak. kan rokok nggak haram. yang penting nggak menggangu yang non perokok. suruh aja mereka baca artikel ini >> http://www.kukuh.my.id/2013/10/dear-perokok.html #halah #UjungUjungnyaPromosi

      Delete
  4. lama gak mampir ke blognya kukuh.
    miris banget ya. padahal dikemasannya saja udah ada peringatan bahaya rokok. bahkan sekarang ada iklan "merokok membunuh mu", tapi herannya rokok masih saja digemari. bahkan seperti nyawa kedua buat penggunanya. padahal sudah banyak contoh kasus yang terjadi diluar sana akibat bahaya merokok. si alex ini contohnya. dari rokok yang awalnya enak, sekarang berujung pada menunggu keajaiban atau menunggu maut. miris banget. semoga lebih banyak menyadarkan generasi penerus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin.. mudah mudahan alex menjadi fiksi untuk selamanya dan nggak pernah jadi kenyataan :D

      Delete
    2. jadi ini fiksi ya kuh? kirain beneran kuh. iya, semoga jadi fiksi selamanya. karna gak kebayang gimana mengerikannya penyakit itu. zaman2 sekarang kan udah banyak banget perokok dari kalangan anak-anak. anak SD aja udah ngerokok, gimana besarnya nanti. :(

      Delete
  5. Wahaha tadi lo coment di blog gue semoga dapet 6 juta, sekarang gue coment di blog lo. Semoga berangkat ke Bali ya kuh.. Hahaha xD

    Untunglah gue mulai berhenti merokok, dulu mah kalo nulis harus ada rokok biar enak mikirnya, sekarang gak ngerokok juga enak mikirnya. Imajinasi jalan terus.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha amin rick.
      sip, nggak rokok nggak bakal ngerusak imajinasi juga kok..

      Delete
  6. Ini autobiografinya fiksi yak! Menginspirasi sih Kuh. Tapi barusan pas aku suruh baca temenku yang perokok, dia bilangnya ini bohongan. Haha.

    Sukses ya buat lombanya. Moga enggak ada lagi pemuda yg hidupnya sia2 akibat kurangnya perhatian orang tua, ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia bener juga sih hud, namanya juga fiksi, ya bohongan lah -__-
      sip, mudah mudahan begitu!

      Delete
  7. Ini si Alex nulis beneran? Atau fiksi? Tapi keren ceritanya. Menginspirasi banget Kuh. Post ini harus dibaca sama perokok nih.

    Semoga menang lombanya ya. Amin. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. fiksi, baguslah kalau menginspirasi. biar dibaca sama perokok kamu share dong lik artikel ini. #KukuhMintaLebih

      Delete
  8. aku juga mau ikutan zombigaret ini Kuh, kayaknya baguss...bagus Kuh pesennya dapet tapi Ibunya kalo di kehidupan real nggak mungkin bilang gitu, agak tega juga kal bilang kayak gitu Kuh...@.@

    but, the idea is goood!! semoga menang yaaaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaaak dikomentarin sama penulis yang udah nulis 7 antalogi novel aaaak
      iya, temanya bagus,makanya aku tertarik ikutan..
      iyasih, karakternya terbatas banget. kalau mau basa basi pasti kelebihan jumlah karakternya hehehe

      Delete
  9. fresh idenya.....sering terjadi i masyarakat tapi jarang di perdulikan...ini salah satu sarana buat menyadarkan....setelah ini kamu harus jadi motivator yang hebat...hidup kukuh...

    ini bisa jadi nopel kuh.....samain tuh mbak meykke...kejar prestasinya....

    ReplyDelete
  10. hhmmm...rada miris.
    eh, emg beneran ada penyakit kanker mulut?
    untuk lomba toh.... semangat ngikut lombanya ^_^

    ReplyDelete
  11. Karena keterbatasan jadi kurang maksimal. Aku yakin kamu sebenarnya bisa lebih baik daripada ini Kuh kalo enggak dibatasin 600 kata aja.

    ReplyDelete
  12. wah keren,kuh. gue udah nebak ini bukan kisah nyata :D dan setelah baca balasan komentar lu sama yg lain keyakinan gue terbukti :)
    pesannya dapet kok kuh, tapi gue juga ngeliat bahwa ortunya terlalu sibuk kerja sehingga anaknya ga diperhatiin lagi. sebagian juga karena salah ortunya sih, kalo menurut gue. setelah anaknya sakit baru deh ortunya perhatian. terlambat.

    ReplyDelete
  13. Baru tau kalo ada kanker mulut deh-_- emang gak baik sih ngerokok, buang2 duit doang. Tapi ini tuh kisah nyata apa bukan sih? masih bingung-_-

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.