Bocah pemberi inspirasi


Aku bersama Himpunan mahasiswa ilmu komunikasi (HIMAKSI) sudah berada di perpustakaan daerah Kalimantan Timur. Genangan air sore hari itu membuat kami berjalan dengan hati hati. Udaranya cukup dingin sampai aku enggan melepas sweaterku. Dengan membawa kotak dus Indomie bertuliskan "Bakti sosial untuk korban bencana kebakaran", Kami sudah siap.

Jadi hari ini kami akan mengadakan bakti sosial untuk korban bencana kebakaran yang terjadi di Jalan antasari. Sebagai mahasiswa baru yang polos, imut dan menggemaskan, kegiatan ini adalah acara bakti sosial pertamaku sepanjang sejarah.

Setelah dibuat berkelompok sama ketua himaksi, aku dapat bagian lampu merah jalan Juanda sama sama dengan Monika. Kebetulan dia blogger dari Jakarta yang kuliah di sini. Agak aneh juga sih, kalau biasanya orang Kalimantan yang kuliah ke Jakarta, Monika berfikir sebaliknya. Mungkin karena sekarang Universitas Mulawarman sudah nggak kalah dengan Universitas Indonesia, atau bisa juga dia cuman salah masuk kampus karena almamaternya sama sama warna kuning. Biarlah, hanya dia yang tau. Coba aja blogwalking ke blognya. Kamu akan dipaksa ngeliat wajahnya versi hitam putih. Buat kamu yang baru pertama kali ngunjungin ngeri juga sih. Tapi nggak papa, nanti juga terbiasa kok.

Penggalangan dana dimulai sekitar jam 4 sore. Karena kami berdua sama sama belum pernah menggalang dana, kami sempat kefikiran minta dengan skenario yang kayak gini

"Bapak tau nggak? nyumbang untuk korban kebakaran efeknya sama kayak bakar lemak di perut loh"
"Terima kasih bu sudah mau nyumbang. Eh Ibu cantik juga ya, pipinya chubby chubby empuk gitu. Pasti kebanyakan makan boneka beruang."
"Ngeliat wajah kakak, hati saya juga ikutan membara seperti api. Gimana kalau kakak bantuin padamkan. Mau ya jadi pacar saya?"

Lah, malah modus.

Kayaknya cara itu terlalu ekstrem. Dari yang aku tau, Kehidupan di jalanan itu keras. Kami nggak mau acara bakti sosial ini berakhir dengan bentrokan. Makanya lebih baik main aman aja dengan minta kayak gini
"Bapak, sumbangan kebakaran pak." Iya, kami 2 blogger yang gagal kreatif.

Satu per satu pengendara memberikan sedikit donasinya untuk korban kebakaran. Nominalnya juga beragam. Rp.1.000, Rp. 2.000, Rp.5.000 sampai ada yang memberikan Rp. 50.000. Ini semua hasil dari sumbangan mobil bapak PNS, karyawan swasta, ibu ibu sosialita, pelajar yang belum punya SIM sampai anak SMA yang mukanya sudah tua banget. Aku memberikan senyuman terbaik untuk mereka mereka yang menyumbang maupun yang memilih lain kali. Menurutku, senyum adalah suatu yang gratis tapi punya banyak manfaat. Menakut nakuti orang misalnya.

"Mon, kayaknya kita harus lebih kreatif!" aku langsung mengeluarkan binder dan mengambil kertas untuk ku tulis.
"MENYUMBANG = PAHALA"
Walaupun kayaknya semua orang sudah tau, setidaknya sudah lebih kreatif dari sebelumnya.
"Ayo Mon, kita gantian pegang kertas ini. Biar orang sadar kalau menyumbang sekarang akan membawa dampak di akhirat" Aku berusaha meyakinkan dia supaya mau aja pegang kertas yang sebenarnya nggak ngefek juga, namanya juga sudah terlanjur ditulis.

Saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, kami berdua duduk istirahat di zebracross. Kami sudah cukup bangga bisa dipercaya untuk menyalurkan uang orang lain untuk membantu saudara kita. Walaupun secara fisik sudah capek, kondisi mental tetap semangat dengan acara ini. Saat isyarat lampu kembali berwarna merah, kami kembali jalan dari mobil ke mobil. Sampai ada seorang bocah penjual koran yang tingginya cuman sepinggang menghentikan langkah kami, dia bertanya.

"Kak, itu apa?" Sebenarnya di kotak itu sudah bisa terbaca jelas. Mungkin aja dia masih belum bisa membaca.
"Ini sumbangan kebakaran dek, di Jalan Antasari"

Tanpa kembali bertanya, anak itu langsung memasukan uang seribu rupiah. Dia langsung berbalik dan kembali berjualan.

"Makasih, dek" nada bicaraku bergetar.

Dia pasti tau, belum tentu koran yang dipegangnya itu akan habis, tapi dia sudah berani menyumbangkan uangnya untuk membantu orang lain. Aku terharu. Seribu rupiah mungkin dengan gampang dibelanjakan dengan sosis so nice. Tapi aku yakin, anak itu pasti harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Ngeliat anak itu tetap optimis menawarkan korannya di sore ini, aku jadi yakin, ada saatnya anak berhati mulia itu menjadi inspirasi buat banyak orang.

Kami kembali melanjutkan penggalangan dana ini. Sudah nggak terhitung lagi berapa kata terima kasih yang kami ucapkan untuk mereka mereka yang melintasi jalan juanda ini. Ada perasaan yang jarang sekali aku dapatkan sore ini. Perasaan yang damai.

"kak, kami duluan ya :)" Sebuah teriakan dan senyuman dari bocah bocah penjual koran tadi. Mereka pulang dengan nebeng mobil pick up. Ngeliat senyuman mereka membuat hati ini remuk. Pecah berantakan. Hari ini aku terinspirasi dari anak itu.

Mereka yang setiap hari panas panasan, hujan hujanan di jalan demi membeli koran tetap bisa tersenyum ceria. Mereka pulang bekerja dengan membawa uang yang bagi sebagaian orang nggak sebanding dengan cara mendapatkannya. Mereka terlihat sangat bersyukur. Dari anak kecil itu aku belajar, sesulit apapun kondisinya, selalu ada cara untuk bersyukur.

Nggak beberapa lama, acara penggalangan dana berakhir. Aku dan Monika kembali ke perpusda dimana motor diparkir. Uang hasil penggalangan dana dikumpulkan ke satu kotak untuk dihitung di sekretariat himaksi. Singkat cerita, uang yang berhasil kami kumpulkan sore hari itu sebesar Rp. 1.406.500.

Sebuah hari yang bener bener berkesan. Buat kamu yang baca, acara semacam ini adalah event yang nggak boleh dilewatkan. Setidaknya, sekali seumur hidup. Supaya bisa merasakan gimana belajar bersyukur dan berterima kasih kepada orang yang nggak dikenal selain ke mba mba kasir Indomaret.

gambar: infosumbar.net

Comments

  1. lah itu anak penjual koran aja nyumbang walopun cuman 1000. Elu sama monik ikutan nyumbang kagak? hahaha

    ReplyDelete
  2. Sungguh berhati mulia banget anak penjual korannya. Meski 1000 rupiah, tapi dia ikhlas menyumbang. Patut dicontoh buat kita. Kita mahasiswa masa kalah sama anak penjual koran :)

    ReplyDelete
  3. Bener juga kata ichsan, mua ikutan nyumbang gak bro... :D

    Andai gue ketemu anak kek gitu. Gue akan pegang uang gue dan membeli korannya. "Itukan gue.." :D

    ReplyDelete
  4. Baksos mau bantu korban bencana, dan dibantu anak penjual koran. Indahnya bersyukur dan indahnya berbagi membuat kita enggak boleh mandang mereka sebelah mata. Kadang, anak anak jalanan justru lebih bijak loh dari kita, kalau mau kenal mereka lebih dekat:)

    ReplyDelete
  5. hai kukuh. jadi selama masih menyandang predikat mahasiswa baru, kamu jadi terlihat imut dan menggemaskan? aku baru tau. semoga polos, imut dan menggemaskannya sakinah mawaddah warohmah sampai kamu jadi mahasiswa tingkat akhir ya kuh. :D

    seribu rupiah memang kelihatan tak ada artinya. tapi buat anak penjual koran uang segitu amat sangat berharga. tapi dia tetap mau menyumbang. dan akhirnya memberi banyak pelajaran. dia memang hanya menyumbang seribu rupiah. tapi dia memberi pelajaran lebih pada kamu, monika, aku, dan semua yang membaca tulisan mu ini. :)

    ReplyDelete
  6. klo ngeliat 1000nya mungkin enggak berasa tapi klo ngeliat siapa yang ngasih baru kita berasa...

    ReplyDelete
  7. Waaahhh lama gak main ke sini ternyata si Kukuh sudah jadi mahasiswa , cieeee .... tulisannya udah rapi bangeet gak kayak dulu lagi #Eh

    si anak kecilnya bikin aku tersentuh :') sampai mau ikut menyumbang.... waah keren. dan aku emang lebih salut2 sama anak2 kecil yg punya usaha buat cari uang semisal dg jualan koran daripada ngemis... aku yakin deh itu ngasihnya ikhlas jd seribu rupiahnya itu akan jauh lebih berharga daripada sepuluhribu atau sejuta yang diberikan krn terpaksa.. jadi belajar dari anak kecil tsb.

    oia salam ya buat teman kamu yang jg blogger itu, hehehe^^....

    ReplyDelete
  8. Em... hiks... Em... hiks...
    Kamu sudah mahasiswa. Sekarang sudah besar ya gak menyangka masih aktif menulis. Pantes masih polos, imut dan menggemaskan seperti pantat bayi bro... :')
    Keren sekali anak penjual koran ini. Meskipun gue tersedak di dada, merasakan bulu kudu berdiri dan mata mulai kebelet pipis. Gue selalu membayangkan betaba bersyukurnya kamu bareng monika melihat itu.
    Uang memang segalanya. Tapi amal dan perbuatan abadi di sebelah tangan kanan dan kiri kita. Semoga kita menjadi umat yang selalu bersyukur dan saling peduli sesama, amin


    ReplyDelete
  9. Dulu gue sama teman-teman sering pakai cara ekstrim itu kuh, muji-muji orang yg ngasih. Hahaha.. xD

    Salut sama anak itu, kadang hal-hal yang sederhana kayak seorang anak penjual koran yg nyumbang 1000 rupiah untuk korban bencana bisa memberikan pelajaran baru untuk kita, belajar untuk selalu bersyukur dan menyempatkan membantu orang lain walaupun keadaan kita juga sedang kesusahan. :')

    ReplyDelete
  10. Seru banget pasti dapet pengalaman berharga yang bisa dijadiin cerita dari kegiatan itu ya, yang paling menarik dan mengesankan ya bener anak kecil itu, entah karna masih polos dan apa yang jelas gue merasa malu dengan diri gue sendiri kalo ngeliat kisah anak kecil itu. inspirasi banget..

    ReplyDelete
  11. Haiii kukuh lawasnya ih kada beelang ke blog kukuh *pahamlah kuh?* hahahha

    Keren deh kalian ikut acara baksos kaya gini, ini nih kegiatan yang paling pengen aku lakukan selama ini. Tapi belum tersalurkan lagi lagi krn kesibukan :')

    Ah, aku salut deh sama anak kecil itu. Emang dunia terlalu aneh terkadang yg uangnya berlebihan justru susah untuk mengeluarkan walau hanya 1000 :')

    Semoga banyak anak-anak kecil yg bisa menginspirasi seperti itu :)

    ReplyDelete
  12. Waduh. Kita aja yang bisa bolak-balik warnet, beli kuota internet, nyumbang jarang. Bocah masil kecil yang hidupnya dipertaruhkan dari hasil penjualan koran aja bisa nyumbang. Dimana harga diri kita sebagai orang yang kebutuhannya udah tercukupi? :'(

    ReplyDelete
  13. salut banget uat adeknya...sedih memang. Hidup memang seperti itu...jadilah kita harus teramat bersyukur dengan apa yang kita punya, karena tidak semua orang bisa punya...dan keren ya, sehari dapetnya bsa banyak juga..kamu juga keren, Kuh. Aku salut. :)

    ReplyDelete
  14. keren lah pengalamannya..

    dua jempol buat anak penjual koran,,

    ReplyDelete
  15. salut banget sama anak kecil penjual koran dia ikhlas dan rela menyumbangkan uang yang jelas-jelas susah untuk di dapatkannya.walaupun 1000 tapi sangat berarti :)

    ReplyDelete
  16. sungguh mulia anak kecil penjual koran itu,dia rela menyumbangkan sebagian uang hasil kerja kerasnya,salut pantas untuk di jadikan contoh :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.