Ngomongin kopi


"Mahal mahal gini. Aku pesan yang paling murah aja. Italian Expresso, Rp. 17.000. Pakai uangmu dulu Kuh, nanti kuganti."
Disa waktu pertama baca daftar harga. 

Hari Jumat kemaren, aku, Wawal, Disa dan Blogger blogger lain diajak Boteell ke tempat yang sering dibuat anak hipster check in di Path buat pamer, terutama pencinta kopi. Double Dipps Samarinda.

Saat ngeliat daftar menu, aku bingung milih satu diantara pilihan menunya. Selain nggak terlalu suka kopi, aku masih trauma karena terakhir minum di kedai kopi 'hijau', harganya Rp.40.000 tapi rasanya mirip good day yang bisa dibuat sendiri dirumah. Belajar dari pengalaman, kali ini aku beli kopi dingin yang paling murah. Harganya Rp.28.000, paling rasanya juga kayak good day lagi.

"Aku yang pesan Dipps cofee milk aja. Lagi pengen minuman yang dingin"


Ini harga minumannya.
Ngeliat sekeliling, suasananya memang berbeda dari coffee shop pada umumnya. Dengan tembok berwarna merah, dikelilingi poster poster musisi yang terkenal pada zamannya dan meja seperti kotak kayu penyimpan barang di film Titanic memberikan kesan klasik. Belum lagi suasana sejuk dan alunan musik blues membuat sensasi tenang saat kami berada disini. Cocok banget buat hipster yang nggak suka suasana yang gitu gitu aja. Warung pak soleh dekat rumah kalah telak.



Kami para blogger yang sudah lama nggak ketemu juga ngobrol tanpa ada rasa canggung. Mungkin karena topik pembahasannya masih seputar dunia blog. Mas Apurie ngejelaskan gimana caranya dia bisa dibayarin naik Garuda Indonesia secara gratis, aku juga bagi tips gimana caranya bisa menyelundupkan makanan di bioskop tanpa nyogok satpam. Karena cuman itulah keahlianku.

Seorang pegawai berbaju coklat kemudian datang membawa pesanan kami. Dia memberikan kopi dingin bergelas tinggi ke meja di depanku. Disa dan Wawal yang bersekongkol milih kopi yang paling murah langsung bertatapan begitu ngeliat kopi yang isinya nggak lebih banyak dari 1 cup ale ale rasa kopi. Aku ngerti banget apa yang difikirkan mereka.

kanan kopi wawal dan disa, kiri kopiku, kopiko dari mayora. Jelas lebih enak.
"Udah Dis, nggak usah diminum dulu. Nanti orang lain masih banyak kopinya kamu sudah habis." Aku berbisik ke Disa. Sayangnya, Disa tetap maksa buat meminumnya. Mungkin penasaran dengan rasa kopi Rp.17.000 yang isinya cuman sedikit.

"Coba rasain kuh"

Disa menyodorkan minuman itu didepan mataku. Rada ngeri juga buat minum, soalnya setelah nimum kopi itu mata Disa lebih besar dari biasanya, hidungnya lebih mancung dari biasanya dan tubuhnya berubah jadi kotak kotak dengan tahi lalat yang muncul dimana mana secara gaib. Disa berubah menjadi spongebob.

Sebagai bentuk solidaritas antar sesama teman, aku coba rasain beberapa tetes. Aku nggak tega menelan seteguk kopi yang memang dari beli sudah sedikit.

"Ini kopi apa? pahit, kayak ada sodanya!" Rasanya lebih shocking dari Tea with socking soda!  

Setelah masing masing pesan kopi, pemilik dari Double Dipps Samarinda datang. Dari mukanya keliatan bingung, mungkin aja dia bingung kenapa diantara blogger blogger Samarinda ada yang mukanya kayak kami bertiga. Ganteng ganteng.

Mas yang terlupakan namanya. Sori mas.
Spesialnya Double Dipps dibanding kedai kopi lainnya adalah, rasa kopinya unik dan pasti beda dibanding yang lain. Spesialnya lagi, karena mereka selalu ngadain live music di hari tertentu. Senin memainkan classic rock, Rabu musik blues dan Jumat gabungan keduanya. Jadi buat kamu yang pengen dengarin musik yang menggugah jiwa, kamu bisa datang kesini di hari hari yang sudah disebutkan tadi. Kata masnya sih gitu. Cie promosi.

Aku penasaran dibalik coffee with shocking soda milik Wawal dan Disa, aku tanya aja ke Masnya
"Kalau misalnya nih, ada orang baru pertama kali datang kesini tapi dia nggak suka minm kopi, apa minuman yang direkomendasikan?"
"Flapper latte, karena rasanya paling ringan dibandingkan yang lain. Jadi bisa diminum buat siapa aja."
Aku nggangguk-angguk aja, sebenarnya nggak ngerti juga. Trus mas nya kembali jelaskan,
"Kalau yang paling berat itu Italian expresso, yang dipesan masnya. Isinya memang sedikit, tapi kalau berhasil habisin berarti hebat. Pasti nggak bisa tidur sampai pagi."

Mereka berdua yang biasanya cuman minum kopi sachetan, begitu ke cofee shop langsung yang paling hardcore. Aku berdoa, mudah mudahan tengah malam nanti mereka nggak mengalami kejang kejang. Ternyata bukan karena kopinya murah jadi isinya sedikit, Double Dipps nggak tega aja kalau ada orang yang nggak tidur satu minggu gara gara minum segelas penuh Italian expresso.

Bener aja, belum juga tengah malam, Wawal sudah ngeluh.
"Kuh, kok mataku pedas lah habis minum kopi itu?"

Sukses nyobain kopi, kami diajak ngeliat proses pembuatannya. Ternyata untuk bikin cappucino aja nggak semudah bikin capcin alias cappucino cincau kayak di pinggir jalan. Biji kopi yang sudah bersih dimasukkan ke mesin pembuat kopi. Biji kopi itu kemudian jadi air yang jumlahnya nggak banyak. Air kopi itu trus dicampur sama susu putih yang dipanaskan sampai suhunya 70 derajat celcius, itu harus dikira kira sama mas mas barista (pembuat kopi) pakai tangan. Bisa dipastikan kalau tangan masnya kepanasan. Mungkin inilah arti sesungguhnya dari pribahasa panas panasan demi mencari sesuap nasi.
Kiri: Barista kepanasan pegangin gelas panas.
Tengah: Campurin cappucino dengan kopi.
Kanan: menusuk kopi supaya ada bentuknya (art latte).
Mas barista juga jelasin, walaupun kopinya sama, kalau yang baristanya beda pasti rasanya juga beda. Itulah kenapa, kedai kopi tradisional yang sudah terkenal nggak pernah buka cabang. Karena rasanya pasti beda dengan cabang utamanya. Kami juga diliatkan gimana caranya bikin art latte yang sering difoto foto trus dimasukkan sosial media. Begitu tau buatnya susah, aku jadi nggak tega buat minumnya.
Tebak, gambar apa?
Dengan banyak kopi didepan meja, tentunya aku nggak pengen jadi orang yang mubazir dalam minum kopi. Aku cobain aja semuanya. Dicampur campur. Kopi di Double Dipps memang enak banget! Beda banget dari coffee shop biasa.

Setelah puas minum berbagai macam kopi. Kami mengundurkan diri. Saat kami di kasir dan mau bayar, mas-yang-terlupakan-namanya itu bilang semuanya ditanggung oleh Double Dipps Samarinda. Itu artinya kami nggak ada ngeluarin uang sama sekali. Tau gini kan pesan yang paling mahal aja.
Keluarga besar blogger haus gratisan.
Baru aja jalan dari cafe anak gaul itu ternyata dunia langsung nggak stabil, aku mual. Bener juga kata mas masnya tadi, kalau jarang minum kopi bisa bisa mual atau sakit perut. Inilah karmanya minum kopi membabi buta. Masa kopi bisa bikin mabuk. Sementara Disa, tangannya bergmetaran. Dia langsung hiperaktif, pengen gerak gerak terus kayak ikan yang loncat dari kolam dan jatuh ke daratan. Selain sukses menghabiskan Italian Ekspresso terkutuk itu, dia juga minum kopi secara brutal.  Wawal nggak kenapa kenapa. Mungkin karena dia beriman. Itulah yang menutup acara ini.

*Buat kamu yang penasaran lezatnya Double Dipps Samarinda, kamu bisa ke:
Mall Samarinda Square lantai dasar. Jalan M. Yamin. Dekat banget dengan Universitas Mulawarman, Jadi dari kampus kamu bisa langsung ngopi sambil nebeng WiFi, kerjain tugas, ngumpul bareng temen atau cuman check in di Path buat pamer. Follow juga akun twitter-nya di @ddippssamarinda atau info lebih lengkap bisa ke http://www.doubledipps.co.id/*

Comments

  1. Harga 28ribu kayak Good Day? gue beli harga 17 ribu rasanya kayak indocafe mix, kampret banget tuh kafe. Gue kemaren ke coffee shop, pramusajinya juga ngomong "espresso itu berat, jadi kalo gak terlalu suka yang berat bisa milih latte ataupun macchiato". Meskipun gulanya udah dimasukin, tetap aja rasanya pait.

    Tapi gue belum boleh ngeliat cara pembuatannya. Padahal gue pengen belajar buat sendiri. Setelah dari sana, udah menyukai kopi atau belum?

    ReplyDelete
  2. Kerennya kopi itu, ketika di ukir gitu. Gue juga pengen sering2 minum kopi gituan, sayangnya waktu tak bersahabat.

    Seru ceritanya broh...

    ReplyDelete
  3. Wah, pelajaran nih, kalau mau ke coffee shop mesti tau jenis-jenis kopi, salah-salah nanti kepesen espresso juga :3

    ReplyDelete
  4. Enak banget ya, gratisan :))
    Lain kali ke Pizza Hut kuh biar gratis juga haha

    Sayang ya ga buka cabang, emng si kalo buka cabang minusnya di rasa yg beda dari cbang pertama.

    ReplyDelete
  5. Wahhh di Samarinda udah buka yaaa, keren lahhh.
    Tapi gue udah duluan nyoba DD di Malang, gratisan juga sih, di taraktir temen, emang yg gratisan mah enak-enak aja.
    Kalo disini adanya di MX mall, pas didepan kampus gue. Keknya DD emang sengaja nyari tempat yg deket dengan univ ye?
    good market bgt emang

    ReplyDelete
  6. gue belom pernah nih ngerasain kkyakk gini. blogger panggilan gitu. er... bner ga bahasanya, kuh?
    tapi enak yakk bisa ngerasain kkyak gitu. walaupun emang mahal sih harganya. gue juga lebih milih bikin sndri dari pda beli'' mahal gtu. gue stuju tuh sama tmen'' lo yg mesen paling murah. tapi setelah tau klo smua di tanggung, nyesel pasti. iya, gue yakin temen'' lo itu nyesel, kuh. pasti.

    gmna biar bsa d undang'' gtu, kuh?

    ReplyDelete
  7. Itu gambar bukan sih yang di cangkir? Hehe. Gue juga sering ke Double Dipps gorontalo dulu pas masih stay disitu, sayangnya sekarang udah ditutup dan gue juga udah nggak tinggal disana. *malah curhat
    Anyway, salam kenal ya :D

    ReplyDelete
  8. Ngopi memang enak, apalagi di pagi hari :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.