Mendaki bukit demi avatar


Ujian semester 1 sudah kami lewati dengan hikmat. Satu yang pasti, kuliah memang berbeda dengan sekolah. Kalau di sekolah dulu namanya guru, sekarang jadi dosen. Dulu namanya sekolah, sekarang ganti jadi kampus. Dulu namanya siswa, sekarang jadi mahasiswa. Kalau dari nama, bedanya cuman itu aja sih.

Tepat di hari terakhir US, Nindi joget bikin rencana maha dahsyat dengan mengajak kami jalan ke kutai lama. Katanya disana ada bukit yang bagus buat hunting foto. Dengan semangat, kumpulan orang yang merasa cantik dan ganteng kalau di kamera memastikan kehadirannya. Joget adalah nama kesayangan yang kami berikan ke Nindi karena dia telah menguasai seluruh tarian SNSD, EXO, Suju & Bigbang. Dia keren sekali.

Padahal karena dikelas, nama Nindi ada 2. Makanya kami panggil Nindi joget. Biar beda aja.

Kalau biasanya aku selalu ikut semua yang lagi hits, kali ini aku memilih nggak ikut. Kutai lama itu bukan kota Samarinda lagi. Malas aja kalau jalan jauh jauh, apalagi cuman buat cari foto. Bukannya minder, tapi aku nggak mau ria dengan kegantengan d.

Google Maps aja sudah nggak sanggup hitung jaraknya.
Hari yang mereka rencanakan tiba. Suhu udara dingin ditambah dengan hujan rintik rintik yang cukup membasahkan menggambarkan cuaca kota. Kalau sudah gini, biasanya timeline Path mendadak penuh dengan lagu Kunto aji - Terlalu lama sendiri. Padahal lagu itu nggak bikin mereka dapat pacar juga. Tapi kembali dengan petuah orang optimis, namanya juga usaha.

Cuaca ini juga bikin malas keluar karena bisa dipastikan kalau sebagian jalan raya banjir di lokasi yang itu itu aja. Kasur di kamar seperti merayu untuk tidur lebih lama lagi. Aku cek grup chat di Line, mereka sudah berkumpul di SMA 2 Samarinda dari 10 menit yang lalu. Malas bergerak, aku abaikan pesan mereka. Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi Line masuk "you have a message".

Dery Fathurahman: "Kuh, aku didepan rumahmu"

Dengan memakai jas hujan, sepatu dan helm berwarna putih, Dia siap pergi ke kutai lama. Padahal Nindi joget bersama rombongan sudah mau berangkat. Trus ngapain anak ini datang kerumah?

"Yakin kah Der? hujan hujan gini?"
"Yakin lah. Life must go on."

Bener juga kata Dery, apapun yang terjadi Life must go on. Walaupun sampai sekarang nggak ngerti apa hubungan antara kata mutiara tadi dengan perjalanan kali ini, tapi quote nggak nyambung Dery membangkitkan semangat. Dengan seadanya aku siap siap, lalu kami basah basahan bareng. So romantic. Maksudnya, kami berangkat hujan hujanan ketemu mereka yang semangat foto.

Dery langsung membawa Yamaha Jupiter MX miliknya ke arah SMA 2 Samarinda, titik terakhir sebelum berangkat ke Kutai lama. Baru 5 menit kami berkendara, telepon masuk dari Nika.

"Halo, kalian nggak usah kesini. Kami sudah berangkat. Nggak mungkin sudah kalian kejar kami."

Sebenarnya kalau mau balik lagi juga nggak masalah sih, belum jauh juga dari rumah. Tapi Deri masih dengan semangat life must go on-nya. Dia nekad menerjang hujan yang semakin lama semakin bertambah lebat. Nggak ada yang tau kenapa Dery mau aja nyusul saat yang lain sudah berangkat. Kalau kita perhatikan baik baik, muka Dery juga nggak photogenic kalau difoto dari sisi manapun. Jadi nggak mungkin alasannya pengen pamer di sosial media, dia juga bukan orang yang suka dikasihani. Berikut adalah sebagian chat line grup saat aku dan Dery diperjalanan sementara sisanya sudah sholat di Masjid pertengahan Samarinda - Kutai lama.


"Der, kalau kita nyasar gimana?"
"Tenang aja, kan ada penunjuk jalannya. Kalau misalnya tersesat ya balik lagi"
"..."

Cerdas juga. Lagian juga aku cuman dibonceng Dery, jadinya nggak rugi rugi banget. Setengah jam di perjalanan, kami telah berada di ujung kota Samarinda. Beberapa saat lagi kami akan melewati perbatasan antara Samarinda dan kabupaten kutai kartanegara. Nika mewakili yang lain sudah memperingati kami berdua supaya nggak usah ikut, selisihnya sudah terlalu jauh. Benar aja, sudah nggak banyak rumah warga. Semuanya keliatan alami dan higienis.
Belum sampai aja pemandangannya sudah bagus gini.

Eh, ada sapi lepas!
Memasuki area yang sudah nggak dikenal, jalanan makin horror. Di pinggir jalan banyak terlihat tanaman jagung, padi dan jadilah koko crunch. Kami takut kalau nyasar ke Australia. Ternyata tempat foto fotonya lebih jauh dari yang kita kira. Dery yang awalnya keliatan semangat jadi mulai lesu, kayaknya dia pengen balik lagi. Sudah jalan sejauh ini, tanggung banget kalau kami kembali. Sebagai teman yang dari tadi cuman ngoceh dan ketawa ketawa, kali ini aku mencoba memberikan semangat.

"Tanggung kalau kita balik lagi Der. Minimal ketemu yang lainnya aja."
Bisa ditebak, Dery sebentar lagi akan mengucapkan kalimat 'Life must go on-nya'.

"Iya, life must go on."

Tuh kan, bener. Kayaknya sih, cuman itu kata mutiara yang dia tau. Padahal kalimat itu juga sering di baliho iklan rokok. Bedanya kali ini dia mengucapkan dengan nada kurang bergairah.

Kami terus melewati satu satunya akses jalan menuju kutai lama. Saat kami hampir putus asa, ada teriakan dari arah warung dengan suara keras dan melengking. Pasti suara Nika.

"Dery! kukuh! Derrrr"

Lalu diikuti dengan teriakan lainnya. Ya, aku dan Dery berhasil bertemu rombongan. Itu artinya kami telah sampai..... Sampai di sebuah warung. Walaupun belum sampai tujuan minimal sudah bertemu kawan kawan. Kami menang.


Belum juga sempat istirahat, kami langsung menuju tempat pendakian. Ternyata lokasi bukitnya nggak jauh dari warung penuh keajaiban tadi. Hujan juga belum berhenti. Tapi itu nggak menghalangi kami buat mendaki bukit demi avatar sosial media yang mengagumkan. Saat berada disini, rasanya seperti flashback saat aku pernah adventure ke hutan. Belajar dari alam memang lebih seru. Makanya kita perlu menjaga lingkungan kita tetap bersih, supaya kelak generasi penerus masih bisa merasakannya.

Rombongan kita kita


Asik banget nggak sih. Kalimantan, nih.

Kukuh kok ria kegantengan sih :(
Tangan peace yang cowok, Dery.
Tangan peace yang cewek, Nindi joget.
Pakai kacamata, Nindi kang foto.
Sisanya nggak usah dihafal.
Dan inilah, Kita kita.

Kami belum puas untuk foto foto. Tapi hujan yang semakin lebat seolah memaksa kami bubar dan turun. Liat aja, bukit bukit yang terlihat berembun itu menggambarkan gimana lebatnya hujan. Kami turun, kelaparan dan mencari tempat makan terdekat.

Jadi ini es, tapi dibakar. Gimana sih.
Kami makan Mie ayam spesial, mie ayam biasa, bakso spesial dan bakso biasa. Walaupun namanya mie ayam biasa, tapi rasanya tetap nikmat karena kami bernyanyi bersama diiringi oleh suara gitar yang Disa bawa dari rumah. Awalnya kami mikir kalau nggak penting juga sih jauh jauh bawa gitar ke atas bukit, ngerepotin aja. Tapi gitar itu ternyata berguna saat kami berusaha menghangatkan suasana lewat nyanyian, teh hangat dan mie ayam biasa.

Comments

  1. Liburan itu emang indah, apalagi dilakuin pasca UAS. Tapi semua bisa rusakketika IPK terjun payung, tapi tenang, life must go on anak muda hahah

    ReplyDelete
  2. Wih enak liburan ke daerah rerumputan, lihat-lihat yang hijau. Tuh ada jawi juga lagi jalan-jalan, Seru!

    ReplyDelete
  3. Wow,,
    Nice trip man...
    "Life must go on" haha...

    ReplyDelete
  4. Liburan yang keren avatar. :D

    Sepertinya gue sebagai manusia yg tinggal gak ada bukit. Cuma bisa nelen ludah sambil gigit jempol kaki. -_-

    ReplyDelete
  5. Yak bener banget. anak jaman sekarang rela banget liburan jauh jauh demi foto yang bagus untuk avatar sosmed.

    ReplyDelete
  6. Sebagai anak muda, life must go on, betul banget bro :D

    ReplyDelete
  7. mumpung masih jadi mahasiswa baru (maba) dengan tugas kuliah yang masih dikit, nikmatin dulu liburan-liburan.... sebelum kamu makin lama jadi mahasiswa semester tua yang sibuk sama penelitian, skripsi, wisuda bla,,bla,,bla hehehe

    ReplyDelete
  8. Jakarta gak ada bukit, Btw, es kelapa muda bakar gimana rasanya?

    ReplyDelete
  9. aku mau posting eh, cuman chat line kehapus semua kmfrt!

    ReplyDelete
  10. Anjer, keren banget. Apalagi pas foto yg background-nya rumput-rumput itu, anjirr.
    Btw, es kelapa muda bakar rasanya gimana tuh? Baru tau soalnya. :D

    ReplyDelete
  11. Gak masalah tempat nya biasa aja, makanan apaadanya, asal sama temen mah jadi luar biasa. Cantik banget pemandangannya. Mana di tempat gue hampir gak ada yang begituan, ada sih, tapi di luar kota. Akses ke sana jauh lebih dari waktu dari elo itu. Bisa makan setengah hari perjalanan.

    Lalu keindahan alam mana lagi yang kita abaikan?? Hihi.

    ReplyDelete
  12. Kayaknya asik juga Kuh... walopun sempet ditinggal, entah karena kalian kurang penting atau kurang menarik. Akhirnya bisa ketemu juga sama yang lain.. emang sih, kayaknya ribet cuma poto2 doang aja mesti jauh2 .. sebenernya bukan fotonya yang paling berharga, tapi momen bareng temen2 itu yang paling asik buat dijalanin dan inget.

    Btw.. apa hikmah dari ngambil poto sapi di pinggir jalan? Aku butuh penjelasanmu Kuh!

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.