Demi pendidikan


"Ini bukan tentang jarak, tapi tentang perjuangan"

Selasa pagi, bertepatan dengan hari Kartini. Nggak ada perayaan spesial buatku hari ini, kecuali adek yang memakai kebaya merah muda untuk dipakai di sekolahnya. Sementara aku bersiap menuju kampus untuk kuliah. Kebetulan hari ini ada UTS Ilmu kealaman dasar.

Matahari belum juga berwarna orange, padahal waktu di jam dinding rumah sudah menujukkan pukul 6.55. Bagi sebagian orang, hujan ini merupakan kenikmatan tersendiri karena bisa mendengarkan sound FX alami tanpa perlu menggunakan aplikasi rainymood. Sebagian lagi adalah makhluk ciptaan tuhan yang bersiap nekad menerobos hujan, Iya. itu aku.

Aku memakai kemeja warna biru langit lengan panjang yang didalamnya terdapat kaos berwarna hitam. Karena cuaca juga sedang hujan, aku memakai jaket polos berwarna biru dongker dan jas hujan sebagai pelindung. Mengambil kaus kaki di lemari dan memakainya sebelum mengikatkan tali sepatu. Aku siap berangkat menuntut ilmu.

Lima menit perjalanan, sudah banyak tetesan air hujan yang masuk kedalam sepatu. Situasi kayak gini beneran nggak enak. Nggak mau sampai kampus kayak orang yang baru aja berenang pakai sepatu, aku memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah Disa, teman sekelas yang seharusnya juga ikut ujian di pagi ini. Dengan pasrah aku kembali melepas sepatu dan kaos kaki yang sekarang sudah bisa diperas.



Ajaibnya, Disa masih belum mandi. Positif thinking aja, mungkin dia nggak mau buang buang air dan pengen menggunakan fasilitas dari alam: mandi air hujan. Setelah menaruh kaos kaki basah kedalam tas, aku pergi untuk melanjutkan tur ke kampus sementara Disa sukses diomelin mamanya.

Hujan semakin deras. Butiran air semakin keras menabrak lenganku yang sibuk mengarahkan stang motor untuk menghindari air air genangan, lubang lubang di jalan, batu batu akik dan cicak cicak di dinding. Jarak pandang nggak bisa terlalu jauh karena tertutup air yang sudah seperti embun pada pukul 4 pagi. Sepatu semakin basah, tapi kalau dinikmati nikmat juga. Becek becek enak.

Biasanya aku selalu melewati jalan Antasari kalau nggak ada hujan deras. Tapi karena jalan itu punya fitur otomatis banjir kalau hujan datang, aku memilih untuk mutar ke arah lain. Pilihanku adalah daerah rumah sakit dirgahayu. Nggak masalah kalau jauh, yang penting bisa ikut ujian dengan tempat duduk yang strategis. Aku menuntun motor ke jalan yang benar dengan jiwa yang bersih sesuai dengan syariat Islam yang berlaku.

Sampai di jalan pasundan, aspal sudah nggak terlihat lagi. Jalanan sudah berubah kayak sungai berwarna abu-abu hasil dari campuran air parit. Aku ragu untuk melintasi jalan ini. Diperkirakan ketinggian banjir ini 30 centi diatas mata kaki orang dewasa. Bahkan, kalau Lintang ada diposisiku sekarang pasti dia akan putar balik. 

Ada seorang ibu ibu dengan memakai motor Suzuki Spin nekad dengan full speed menerobos banjir, tepat 20 detik setelah aku pengen putar balik. Heran, mungkin ibu ini nggak tau kalau ada bencana alam yang namanya banjir. Mungkin dia ngira kalau motornya akan ngapung diatas air karena punya teknologi waterproof. Atau mungkin cuman aku aja yang cupu nggak berani melewati air banjir berwarna abu abu ini.

Kukuh baik: Sudah kuh, ini demi pendidikan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Eh, maksudnya tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tionghoa. Karena kita nggak boleh nyebut kata Cina lagi.
Kukuh jahat: Sudah kuh terobos aja. itu ibu ibu aja berani. Nanti kalau telat, bilang aja banjir.
Lah, kok ini semuanya dukung aku terobos? Ya iyalah, yang jawab kan aku sendiri. Jomblo memang gini, suka tanya sendiri dan jawab sendiri.

Dengan niat pengen dapat nilai bagus supaya nggak ngulang semester depan. Aku nekad, senekad ibu ibu yang mungkin anaknya mau melahirkan. Aku memaksa motorku untuk tetap jalan. 5 meter pertama, air sudah menggenangi 1/3 dari tinggi motor yang ku tumpangi. Sepertinya kenalpot sudah mulai kemasukan air. 20 meter kemudian air sudah setinggi lutut Raditya Dika. mungkin kalau aku paksa 10 meter lagi motor ini berhasil tenggalam dan aku mati dengan cara yang tidak terhormat.

Apakah aku menyerah?
Tidak.

Apakah aku menyesal?
Iya.

Apakah aku menangis?
Iya.

Aku berhenti di depan toko fotocopy untuk menepi sejenak. Mau putar balik, tanggung tapi kalau mau lanjut, ngeri. Sungguh perjuangan yang mengharukan. Bapak bapak di tepi toko bilang,  kalau mau survive di banjir kayak begini, motor harus ada dibelakang mobil. Karena arusnya sudah dipecah sama mobil. Karena ternyata arah menuju kampus adalah arah yang melawan arus air. Nggak tau juga sih, ini mitos atau fakta. Soalnya akun @WOWFakta belum ada ngetweet tentang hal ini.

Sesuai saran, aku mengikuti jalan dibelakang mobil pajero yang kebetulan baru lewat. Ternyata bener, aku terbantu karena arus sudah dipecah. Jadi buat kamu yang lagi kebanjiran dan naik motor, pastikan posisimu ada dibelakang mobil. Setidaknya itulah manfaat baca blog ini.

Selesai dari banjir berwarna abu abu, perjalanan dilanjutkan. aku harus melewati gunung gunung yang tingginya cukup buat becak jalan mundur. Nggak ada rintangan lain seperti siram siraman air atau lempar lembing. Semuanya normal. Aku sampai kampus dengan selamat.

Teman teman di kelas menyambut dengan iba. Mereka nggak tega ngeliat baju yang basah, celana yang digulung sampai paha dan pomade yang sudah luntur. Untungnya belum ada dosen. Haris, anak yang rumahnya satu arah denganku bertanya heran.

"Kok kamu basah betul, Kuh?"

"Iya, tadi aku lewat selat sunda dulu ris. Jembatan suramadu macet."

"Oh. Padahal daerah Antasari nggak banjir loh."

"...."

Comments

  1. jadi, demi pendidikan kamu berjibaku dengan banjir hingga kebasahan. hemm yang tabah ya dek, perjuanganmu gak akan sia-sia. ingatlah diluar sana, anak SD harus berjibaku dengan mempertaruhkan nyawa, lewati lembah dan jembatan yang ampir rubuh. hiks,, maaf. ini kenapa jadi sok bijak gini XD
    boleh juga tipsnya, jadi mesti lewati mobil gitu. oke

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi. Bermanfaat kan ngunjungi blog ini hahahah. Sering sering yak!

      Delete
  2. Widih, demi pendidikan rela berjibaku dengan banjir dan melawan hujan, berani sekali kau nak, kau sangat bijaksana dan patut dicontoh.

    Sayang, andai saja lu kagak muter dan milih Jalan Antasari, lu bakal bareng Haris dan kagak harus melewati tantangan yang membuat lu basah kuyup, hahaha xD

    Tapi, paling enggak lu dapat tips baru kalau meelewati banjir, jalan di belakang mobil biar arus kebelah dan enak lewat :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa kayak gini bijaksana sih? hahahah mudah mudahan yak.

      Nah itu dia, secara gaib jalan antasari nggak banjir -____-

      Delete
  3. Pengorbanan dan perjuangan yang hebat nih, demi bisa ikut UTS rela ujan-ujanan dan nerjang banjir. ya kita jangan kalah juga sama anak-anak SD yang dipelosok sana, demi bisa berangkat ke sekolah mereka rela jalan kaki berpuluh-puluh meter dan melewati jembatan yang gak layak cuma sebatas tali-tali kawat aja. patut di contoh dan menjadi pelajaran bagi kita semua, tidak ada yang lebih penting selian pendidikan :)

    oh ya lo waktu berangkat kenapa gak pake sandal aja dulu, terus sepatu sama kaos kaki lo dimasukin ke tas, kan jadi pas datang di kampus sepatu sama kaos kakinya gak basah kuyub.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain pendidikan, yang lebih penting lagi itu bernafas sih hahahah.

      Rencananya mau pakai sendal dulu sih, cuman karena waktu dirumah belum lebat, malas repot repot bawa 2 alas kaki hehehehe

      Delete
  4. keren perjuangannya, untuk mencari ilmu hujan dan banjirpun tidak di hiraukan

    ReplyDelete
  5. Demi menuntut ilmu sampai ke negri China, eh Tionghoa, lu berani ngelawan arus gini. Itu keren parah. Aku aja dulu waktu mau berangkat sekolah, ada arus di depan aku, aku enggak berani nerobos. Soalnya itu arus mudik, jadi takut mau nerobos.

    Akhirnya ada manfaat membaca blog ini, jadi nggak sia-sia. Dan seperttinya kali ini akun wowfakta ada benarnya juga, memang wow banget faktanya. Nanti deh kalau ada arus yang tingginya selutut ibu-ibu yang nerobos tadi, aku bakal naik motor di belakang mobil. Motornya aku sangkutin di bagian belakang mobil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kereeeeeeeen makasiiih

      Kalau nyangkutin motor ke bagian belakang mobil, Itu lebih canggih lagi sih..

      Delete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.