Begini aja awkward, gimana masa depan nanti?


Lebaran memang momen yang paling cocok untuk jadi ajang kenalan sama orang tua teman. Bagi sebagian orang yang beuntung, lebaran bahkan bisa menjadi momen untuk mendekatkan diri ke orang tua pacar. Siapa tau aja dari perkenalan itu mereka yang awalnya dipanggil "Om" dan "Tante" berubah menjadi "Ayah" dan "Ibu". Tapi bagi orang yang belum beruntung, kita bisa pinjam mesin waktu Doraemon biar langsung di skip ke lebaran tahun depan.

Di lebaran hari kedua, Disa, Onel dan Haris datang ke rumahku untuk silaturahmi dengan orang rumah. Setelah itu kami menuju rumah Disa, rumah Diva, rumah Nindi kating, rumah Fery dan rumah Onel. Kebanyakan orang Samarinda memang menghabiskan hari kedua lebaranya bersama teman, setelah di hari sebelumnya bersama keluarga. Hari itu, nggak terhitung lagi berapa makanan dan minuman yang berhasil kami telan.

Perjalanan dilanjutkan ke rumah Nindi joget (selanjutnya disingkat Ninjog) yang merupakan rumah terakhir yang hari ini kami kunjungi. Tiga puluh menit lagi waktu akan menunjukkan pukul 4 sore. Karena kami mengendarai motor, saat hujan turun dengan lebat artinya kami harus menepi untuk berteduh. Saat di telepon, Ninjog bilang kalau perjalanan dari toko komputer tempat kami berada ke rumahnya masih cukup jauh. Bisa aja ini cuman akal akalannya karena nggak mau repot menyambut gerombolan tamu haus teh kotak. Nggak Nin, kami nggak akan menyerah!

Posisi jarum di jam tanganku menunjukkan pukul 4.30. Kalau masih mau nunggu hujan sampai berhenti, pasti kami baru sampai rumahnya malam tahun baru. Mau balik kerumah lagi, jauh. Dengan semangat hari raya, kami maksa buat menerobos hujan. Kami nggak boleh lemah, zaman dulu aja nabi Muhammad bisa selow berangkat dari Mekkah ke Madinah naik onta. Bahkan Cherrybelle yang membernya sisa 3 orang aja nggak masalah pergi ke bulan naik delman atau onta. Masa kami yang naik motor nggak berani menerobos hujan. Lagian aku juga nggak terlalu bermasalah karena hari ini dibonceng Haris. Tinggal bungkuk dikit, baju yang kupakai nggak akan terlalu basah.



Setelah maksa maksa dikit, akhirnya kami sampai juga di rumah Ninjog. Kami datang dalam kondisi basah kuyup dan dengan tetesan air di baju yang menetes ke teras rumahnya. Begitu sampai Disa langsung buka baju karena sudah nggak tahan lagi. Memang sih, kalau dilperhatikan Disa sudah kayak habis berenang. Ngeliat Disa yang tinggal pakai kaus kutang kayak kuli bangunan, Onel dan Haris ikut ikutan. Mungkin mereka bertiga merasa maskulin dengan buka baju kayak gitu.


Mana yang lebih maskulin?

Aku juga terpaksa ikut ikutan lepas baju kemeja yang hari ini kupakai. Sebenarnya cuman lembab biasa aja, tapi dengan alasan solidaritas, nggak papa. Entah apa yang ada di fikiran kedua orang tua Ninjog begitu liat teman temannya bertamu cuman pakai kaus kutang saat lebaran. Mungkin merasa ngeri, tapi mungkin juga kasihan.

Ninjog lalu mengambil seluruh baju kami kedalam rumahnya. Katanya sih, mau dikeringkan di mesin cuci. Begitu balik ternyata dia datang dengan beberapa mangkuk soto. Baju kami sudah dibarter dengan semangkuk soto. Setelah makan dan badan sudah terasa cukup hangat, kami mengambil beberapa foto lalu bermain kartu Uno. Sampai nggak beberapa lama terdengar suara adzan maghrib.

Haris, belahan dadamu haris.
"Nin, ini sholat dimana?"

Seperti yang kita semua tau, nggak baik bertamu ke rumah anak gadis sampai adzan Maghrib. Kami mau ke masjid untuk pencitraan sebagai anak yang religius ke orang tua Ninjog. Biar datang pakai kaus kutang gini, kami mau menunjukkan kalau sebenarnya kami anak baik baik.

"Biasanya sih di mushola." Kata Ninjog santai. "Tapi bentar dulu, satu game" Dia lalu melemparkan satu kartu ke tengah permainan.

Padahal hadist bilang segerakanlah sholat, kalau kayak gini terus kami bisa dibalsem firaun pakai root beer A&W nih. Game masih setengah babak, tapi kami tetap pergi ke masjid. Sudah iqamat juga. Kami memang selalu takut ketinggalan sholat berjamaah, karena nggak ada dari kami yang berani jadi imam.

-----

"Cepat betul. Nanti dulu, kita ngobrol ngobrol sebentar." 
Bapak Ninjog yang baru pulang dari masjid mencegah kami yang pengen pulang. Beliau memakai baju koko berwarna krem. Kulitnya cokelat dan yang paling mencolok adalah warna kehitaman di tengah jidat. Tanda kalau orang rajin sholat. Wajar sih, di masjid tadi aja bapak Ninjog berada di syaf paling depan.
"Om kan juga mau kenalan dulu sama kalian. Kenalan sama teman temannya Nindy. Biasanya yang datang ke rumah Nindy ini cewek cewek semua. Jarang ada yang cowok" 
Sebenarnya aku agak sedih juga dengar kata bapak Ninjog barusan. Memang sih, Ninjog sendiri pernah bilang kalau selama 18 tahun hidup didunia, dia belum pernah punya pacar yang nyata. Selama ini dia cuman ngaku ngaku aja jadi pacarnya artis Korea. Kami sih maklum. Biasalah, namanya juga jomblo dari lahir. Suka delusi gitu.

Nggak ada yang ngerti kenapa Ninjog sampai sekarang masih jomblo. Padahal dari fisik dan penampilan dia cukup bersaing kok. Orangnya periang, suka tantangan dan suka menjelajahi tempat tempat baru. Dia juga punya jiwa kepemimpinan. Buktinya dialah yang selalu ngadain acara liburan kelas. Selain itu, dia juga punya bakat yang patut untuk diapresiasi: bisa joget di kondisi apapun asal dengar lagu K-Pop. Jadi buat kamu yang kebetulan tinggal di daerah rawan konflik, bisa langsung hubungi Ninjog Nindylutfa kalau sedang butuh trauma yang lebih parah.

Balik lagi ke ruang tamu, didepan kami sudah ada bapak Ninjog. Kami yang duduk berjejer mulai diberikan pertanyaan pertanyaan mendasar antar orang tua dan teman temannya.

"Kamu asalnya dari daerah mana?"

Pertanyaan dari bapak Ninjog itu diberikan bergiliran. Haris sebagai orang yang duduknya paling kiri diantara kami diberi kesempatan pertama menjawab. Saat Haris mau bilang daerah asalnya, semuanya hening. Padahal kami nggak melakukan hal hal tercela. Ditanya satu per satu begini serasa lagi ikut audisi idola cilik, idola semua daerah.

Makin lama suasana mulai berubah menjadi awkward. Lebih tepatnya, kami yang meng-awakward-kan diri. Padahal aku yakin kalau sebenarnya maksud bapak Ninjog ini cuman mau mengakrabkan diri dan kenalan dengan teman sekalas putrinya. Obrolan dilanjutkan walaupun tetap di dominasi beliau yang keliatan paling relaks. Topik juga sudah melebar sampai ke cerita kenapa bapak Ninjog memilih Samarinda sebagai tempat tinggal. Kami hari ini bisa jadi pendengar yang baik dan lebih sering bilang "Iya om" sepanjang cerita.

Setengah jam ngobrol, kami akhirnya bisa pulang. Kami pulang dengan baju yang masih lembab. Di saat mau pamitan, kami yang datang secara tidak terhormat ini malah dikasih kepercayaan.

Kalian jagain Nindy ya. Soalnya Nindy ini cewek. Kasih tau om aja kalau ada apa apa sama Nindy.
"Iya om." kami berempat kompak menjawabnya. Padahal om belum tau aja kalau dia lebih laki daripada kami.

Diperjalanan pulang aku jadi mikir, padahal obrolan dengan orang tua dirumah Ninjog tadi cuman obrolan ringan dan pertanyaanya juga cuman sesimple itu. Tapi kenapa suasananya mendadak horror.

Kalau ngobrol gitu aja sudah canggung, gimana nanti. Gimana di masa depan nanti waktu aku one on one memperkenalkan diri dan berusaha akrab ke depan bapak calon mertua. Gimana nanti, siapa tau aja perempuan calon istri di masa depan kelak bapaknya adalah master Limbad. Salah ngomong dikit langsung disuruh debus jalan diatas paku dan disuruh makan beling. Ngeri.

Di masa depan nanti pertanyaannya pasti pasti juga nggak sekadar nanya daerah asal. Pasti lebih banyak dan beragam lagi. Mungkin di masa depan nanti pertanyaannya begini

"Kamu kerjanya sekarang apa?"
"Kamu siap menafkahi anak dan cucu saya nanti?"
"Kalau udah menikah nanti, kalian mau tinggal dimana?"
"Siapa artis yang baru cerai akhir-akhir ini?"
"Lebih suka iPhone atau Samsung?"
"Kamu hafal rumus trigonometri nggak?"
"Berapa sisa pulau di Indonesia setelah terjadi global warming?"

Gila, aku belum siap.

Comments

  1. Btw ninjog jomblo ya. Langsung sikat aja, tembak ato lamar langsung ke ortunya pasti keren bnget tuh. Ga tau mau awkwrd ato ga yg penting pd n berani hahaha

    ReplyDelete
  2. haha gue jadi senyum-senyum sendiri baca tulisan ini. emang gitu tuh kalo ngobrol sama orang tua temen, jadi mendadak kalem.

    ReplyDelete
  3. haha :D bacanya juga jadi senyum-senyum sendiri, terus ngebayangin kalau di tanya sama calon mertua :D hihihi

    ReplyDelete
  4. apa-apaan tu 4 pertanyaan terakhir?
    sayangnya sekarang masih jomblo jadi gag kepikiran sampe situ :v

    ReplyDelete
  5. gue yakin kenapa NIndy / ninjog masih jomblo selama 18 tahun, ortunya islami banget soalnya. keningnya aja sampek ngapal. pasti tipe kayak dia ntar tinggal ta'aruf lalu nikah dah. wah pernyataan yang suruh jagain nindy serius ni Kuh. udah elo lamar aja si nindy

    ReplyDelete
  6. hahaha... gue juga pernah ngalamin awkward kayak gitu pas ngobrol sama nyokapnya temen, padahal topik obrolannya sih santai, tapi entah kenapa suasana jadi mendadak canggung. btw, ngakak pas bokapnya nindy minta jagain anaknya ke kalian, padahal bapaknya lebih laki dari kalian :v

    ReplyDelete
  7. Ini sama kayak aku. awalnya biasa aja, tapi lama-kelamaan ditanyain kok malah akward ya
    takutnya pas ditanyain bisa-bisa kencing celana sangking akwardnya

    ReplyDelete
  8. baik banget yak ninjog. mau kerinngin baju, datang bawa soto, hmm. tapi itu lumayan ekstrem yak basahnya... sampe kuyup gitu kemejanya bro. ngobrol sama ortu temen emang rada awkward, masalahnya kalau salah ngomong dikit atau kepeleset dikit... habis. di blacklist kita

    ReplyDelete
  9. Itu keren banget Kuh main ke temen cewek pada lepas baju haha

    Btw... asik loh kalo punya temen cewek yg low profile gitu.. mau aja disamperin cowok2 rendah kalori gitu.

    Gue setuju Kuh sama lo, masalah ngobrol sama ortu temen aja udah grogi n salting gimana ngobrol sama camer... asli, awkward-nya udah nyampe ubun2.. mentalnya kudu kuat, minimal 5 tahun di pulogadung dulu baru bisa tegar.

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.