Putra putri Unmul 2015


Ping!
Ping!
Apa?
*picture received*
Gratis kah? kalau iya daftarkan aja aku.

---

Aku mulai membaca flyer yang dikirimkan Ratna. Dari namanya, acara ini pasti semacam lomba cerdas cermat atau lomba debat antar fakultas. Kayak begini anak fakultas sosial pasti bisa bersaing. Aku mulai menyiapkan berkas yang dibutuhkan seperti fotocopy kartu tanda mahasiswa, kartu hasil ujian dan beberapa sertifikat lomba. Cuman dalam waktu 10 menit semuanya terkumpul, kecuali foto seluruh badan berukuran 4R.

Karena nggak mau repot, aku crop aja foto cover yang ada di Facebook. Menyimpannya kedalam flashdisk dan memasukkannya ke sisi paling depan dari tas yang setiap hari kupakai. Setelah dicoba print ke Fujifilm terdekat: fotonya pecah. Benar benar calon duta kampus yang berani beda.


Jadi foto ini difoto pakai HP.
Reslousinya kecil, tapi masih maksa juga buat di print.

Aku sampai di dekanat Fisip tempat penyerahahan berkas. Ini semua gara gara pengaruh BBM Ratna kemaren sore. Dia adalah mahasiswi jurusan Psikologi yang waktu itu satu kelompok saat KPMF (ospek fakultas) tahun lalu. Beda dengan aku yang ikut-ikutan, dia ini adalah orang yang sering ikut lomba kayak begini. Tahun 2014 lalu dia ikut duta pemuda, tahun 2015 ikut pemilihan duta pariwisata Samarinda 2015. Saat aku tanya lombanya ngapain aja, dia cuman bilang "Lombanya santai aja". Yaudah. Selama gratis, aku ngikut aja.

"Aduh, maaf ya Pak. Kemaren saya nggak sempat foto, jadi saya pakai foto yang ini aja ya, foto sebulan yang lalu Pak."

Aku liat fotonya, seorang Ratna senyum dengan baju merah menyala dan hak yang cukup tinggi. Latar belakang foto itu hanya berwarna putih. Sudah pasti kalau kualitas semacam itu diambil oleh seorang fotrografer di studio.

Aku nggak ngerti, fotonya baru sebulan yang lalu ngapain dia minta maaf. Aku yang nyerahkan foto hasil crop sana sini dan waktu di print pecah aja selow.

---

Sore hari diperjalanan pulang setelah pengumuman lolosnya berkasku, ada telepon masuk dari nomor yang belum dikenal. Jarang banget ada yang nelpon jam segini. Sebenarnya jam berapapun juga jarang sih, tapi yaudah lah ya..

"Kukuh dari Fisipol ya? Tadi kenapa nggak datang? Teman temanmu hadir semua."

"Wah, saya nggak tau informasinya Bu."

"Tadi ada pembekalan pertama, harusnya kamu datang. Besok ada interview & pembekalan kedua. Rundown acara sudah dapat belum?"

"Belum bu."

Calon duta macam apa yang nggak tau info.

Saat datang ke ruangan bu Afra, ternyata Fisip nggak cuman mengirimkan satu pasang wakil, tapi ada 8 orang. Disana aku mengukur tinggi badan dan diberikan rundown acara, buku catatan, pulpen dan profil Universitas Mulawarman yang kata bu Afra "Dibaca-baca aja dulu".

Klik buat liat selengkapnya.

Aku mulai baca rundown dengan seksama, kemaren aku sudah melewatkan pembekalan pertama yang materinya tentang "Wawasan civitas akademika & kampus" dan materi kedua dengan judul "Modeling". Di hari berikutnya ada materi berjudul "Personal grooming" dan "Public speaking". Lanjut lagi empat hari berikutnya dengan "Photoshoot" dan "Public speaking diatas panggung."

Bentar, ini sebenarnya lomba apa?

Gila! Buat senyum di depan kamera tapi nggak keliatan mesum aja udah sulit. Gimana mau ikutan photoshot. Malam sebelum lomba aku coba bongkar lemari untuk mencari perlengkapan sesuai dengan dress code. Aku menemukan celana kain yang terakhir kali dipakai beberapa bulan yang lalu dan langsung kerumah Disa buat pinjam sepatu sepatu pantofel. Gimanapun caranya aku harus tetap survive diacara ini walaupun nggak barharap menang. Selain itu, aku juga mau membuktikan kalau buat ikut lomba beginian nggak mesti keluarin modal banyak.

---



Kami berada di ruang rapat rektorat yang di masing masing meja terdapat microphone yang bisa sekalian jadi speaker. Acara dibuka oleh bu Afra, lalu dilanjutkan dengan materi personal gromming oleh Bunda Nora Suzuki Mokodompit. Beliau adalah alumni Universitas Indonesia dan Universitas di Jepang (yang aku lupa namanya) juga merupakan bagian dari tim grooming dari putri Indonesia.

Kami dikasih tau 6 kriteria penilaian yang selalu dipakai di ajang putri Indonesia. Diajarin gimana cara menjadi pribadi seorang duta, etika internasional sampai belajar cara senyum yang bagus. Iya, kalau kamu heran kenapa kandidat putri Indonesia senyumnya selalu enak diliat, itu ternyata karena mereka belajar, men. Nggak bisa asal senyum untuk ikutan acara kayak beginian.



Lanjut ke materi berikutnya adalah public speaking oleh Bu Syarifah Alawiyah. Beliau juga nggak kalah hebat. Pengalaman public speaking dan keprotokolannya udah dimana mana. Bahkan udah pernah jadi MC resmi yang dihadiri seluruh presiden Republik Indonesia (kecuali presiden pertama).

Bu Syarifah mempresentasikan gimana cara menjadi public speaker yang menarik dan sesuai dengan acaranya. Kami belajar tentang cara memainkan mimik wajah saat diatas panggung sampai gimana supaya nggak gugup dan gemetar kalau jadi pusat perhatian saat membawakan acara. Menurutku ini memang bermanfaat, supaya kalau jadi MC nggak kayak begini lagi.

Walaupun sadar kalau kemungkinanku lolos ke babak grand final udah hampir 0% gara gara nggak datang saat pembekalan pertama, aku tetap antusias dengan mencoba untuk jadi salah satu yang paling aktif dalam sesi pertanyaan dan praktek menjadi MC. Kapan lagi bisa dapat materi dari proffesional yang sudah ahli di bidangnya.

---

Hari Minggu, sudah nggak ada lagi pembekalan dan materi. Bunda Nora, Bu Syarifah dan Mas Dodo yang kemarin jadi narasumber sekarang menjadi dewan juri. Dress code pagi ini adalah baju putih slimfit ala boyband SM*SH saat mereka masih terkenal. Sudah pasti aku nggak punya baju semacam itu. Hari ini aku malah memakai kemeja putih yang sudah tergantung di lemari sejak beberapa hari yang lalu. Bodo amat salah kostum.

Sampai di GOR 27 September, ternyata bukan cuman kami yang ada disini, Banyak! Rencananya kami akan naik keatas panggung untuk mempromosikan fakultas masing masing dan jadi model ditengah peserta jalan santai keringatan yang lagi menunggu door prize. Sampai sini aku makin sadar kalau aku memang beneran salah ikut lomba.

Peserta lain jalan pakai teknik, aku jalan santai.
Karena jalan santai biasanya dapat payung.
(Foto: Facebook Unmul)
Ini sebelum kami naik keatas panggung
untuk promosikan fakultas masing masing.
Sampai akhirnya ditentukan pengumuman peserta yang akan maju di babak 16 besar, namaku nggak masuk. Ya iyalah. 

Comments

  1. Yaelah, namanya nggak masuk?

    Kepotong banget ceritanya Kuh. -_-

    ReplyDelete
  2. Makanya, ikut dong pembekalan pertamanya itu.

    Ikut-ikutan yah ? Haha, waktu SD gue juga sering ikutan lomba. Aslinya sih, ikut-ikutan juga~

    ReplyDelete
  3. Hehehe... gak apa-apa nggak masuk, yang penting udah punya pengalaman.. nanti nanti ikutan lomba lagi siapa tau bisa menang.. :D

    ReplyDelete
  4. Itu fotonya kasian yang ketutupan tulisan :'D

    Haha, aku aja belum tentu berani ikut beginian. Salut sama mereka yang berani ikut kompetisi kayak gini, yang mesti pede didepan kamera dan sikapnya mesti dijaga banget. Hitung-hitung pengalaman ya bang :D

    Bu syarifah tadi sudah berumur banget ya, jadi MC semua acara yang dihadiri presiden kecuali yang pertama.

    ReplyDelete
  5. yang penting ada pengalaman buat gitu mas
    ilmunya bisa berguna tuh dari apa yang dipelajari di sana. public speaking dan lain-lain tuh

    btw, lain kali ikutan lagi aja
    siapa tahu baruntung tuh

    ReplyDelete
  6. Bentar deh. Lu sbnernya ikutan lomba apaan si, kuh? Ad kelasnya, pematerinya juga. Tpi pas baca, belajar cara senyum duta putri indonesia.... laah laah lah laah

    Tpi alhamdulillah, meskipun elu ga menang, snggaknya bdan lo ga knapa". Gue kirain, sking santainya jalan d atas panggung lu d lempar pake tombak gtu, kuh. Trnyata kga ya? Ya iyalah

    ReplyDelete
  7. yang pentinmg dapet pengalamannya, ya semoga untuk yang selanjutnya klo ikutan lagi bisa menang ya..

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.