Setelah #MelawanAsap


Setiap Senin aku selalu berangkat kuliah pukul 9 pagi, tak ada matahari dan tak ada awan. Padahal angin juga nggak bertiup kencang. Saat cek aplikasi cuaca di smartphone, 30 derajat. Terlihat mendung walaupun hujan sudah lama banget nggak turun. Ini bukan embun, karena pukul 9 pagi sudah sudah bukan waktunya lagi untuk mereka berada di udara. Ini asap.

Buat kamu yang tinggalnya di pulau Jawa, Sulawesi dan daerah daerah yang aman dari kabut asap, pemandangan di kota kami bulan lalu nggak seindah biasanya. Seperti yang kubilang di paragraf sebelumnya: gelap, mendung setiap hari dan berbahaya. Buat yang masih belum kebayang gimana suasananya, liat deh beberapa foto dan berita ini.





Keliatan nggak?
Gambar dari kaltim.tribunnews.com
Ini masjid Islamic Centre. Nggak pakai efek blur.
Gambar dari kaltimpost.co.id


Kabut asap di Samarinda kian pekat, ada 537 titik api
Kabut Asap di Kaltim Menggila, Tembus 537 Hot Spot, Rekor Tertinggi selama Kemarau

Dengan adanya kabut asap, masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker dan tidak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar ruangan. Berbahaya men. Apalagi untuk balita yang paru parunya belum kuat.

Oleh karena itu, banyak komunitas dan organisasi yang melakukan aksi sosial #MelawanAsap dengan membagikan masker untuk mengurangi dampak buruk asap bagi kesehatan. Hampir di setiap lampu merah mereka berbaik hati membagi bagikannya secara gratis. Tanpa pamrih seperti tukang parkir di ATM yang harus bayar Rp.2.000



---

Di awal November, akhirnya hujan mulai sering turun. Ngeliat air yang sudah turun dari langit membuat membuat grup chat di LINE, recent update di BBM dan timeline di Path ramai dengan suka cita "Akhirnya Samarinda hujan."

Makin hari hujan makin sering turun. Asap yang bulan lalu cukup tebal perlahan lahan memudar dan akhirnya menghilang. Bencana kabut asap dinyatakan selesai. Sore itu aku berangkat ke radio untuk siaran hari Sabtu. Seperti biasa juga aku menyumpal earphone ke sepasang telinga untuk mendengarkan beberapa lagu pop dengan volume rendah.

Ditengah macetnya jalan Slamet Riyadi tepat didepan masjid Islamic Centre, aku kembali ngeliat bagaimana jernihnya pemandangan di seberang Samarinda.  Setelah sekian lama tertutup asap, kapal yang melintasi sungai dan jejeran atap di seberang kembali. Mereka berwarna merah, cokelat atau silver. Pemandangan yang selama ini terlindung oleh kabut asap sekarang kembali bisa disaksikan dengan kualitas high definiton.


Buat kamu yang bukan berasal dari Samarinda, kota ini terbelah menjadi 2 bagian oleh
sungai terpanjang nomor 2 se Indonesia, Sungai Mahakam.
Gambar dari skycrapper.com
Bagus kan?
Gambar dari flickr.com
Aku terdiam sejenak untuk sekadar menikmati pemandangan di Samarinda seberang. Aku menghentikan motorku (yang sebenarnya nggak bisa maju juga, karena macet). Rasanya selama 19 tahun tinggal di kota ini, aku baru pertama kali menikmatinya. Padahal hampir setiap hari aku melintasi jalan yang sama. Aku baru sadar, kalau kota ini indah kalau detailnya diperhatikan.

Dari dulu aku nggak pernah terlalu percaya dengan quote dari internet yang kebenarannya belum tentu dipercaya. Tapi setelah melihat pemandangan ini, aku jadi ingat salah satu yang pernah aku baca dan ternyata memang benar.

Kalau hal yang selama ini kita sepelekan tiba-tiba menghilang, disitulah kita akan merasa kehilangan. Dan saat mendapatkannya kembali, semuanya terasa jauh lebih berharga.

Aku senang tinggal disini. Di kota yang memang kurang superior kalau dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta, Bandung atau Bali. Tapi di kota ini juga aku merasakan banyak semangat kebersamaan. Saat seluruh warga kota dihimbau untuk nggak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar ruangan, masih banyak orang yang peduli dengan kesehatan orang lain. Banyak yang memberikan aksinya dengan membagi bagikan masker gratis ke orang lain sebenarnya nggak pernah mereka kenal sebelumnya.

Tapi karena kita satu Samarinda, kita telah bersaudara.
Karena kita sama sama manusia.

Comments

  1. Gue nggak bisa ngebayangin kalo gue yg ada disana Kuh, mungkin bakalan ngeluh mulu kerjaannya.. lo sendiri ikutan nyalahin pemerintah nggak Kuh?

    Untung banget ya akhir2 ini sering ujan.. bencana asap akhirnya berlalu~

    Gue bisa ngerti rasanya waktu lo baru sadar kalo kota lo sebenernya keren, ya.. seperti quotes di atas.. karena gue juga pernah ngerasain~

    Oh iya, salut juga buat yang udah berjuang bagiin masker... mereka keren~

    ReplyDelete
  2. Di kota gue Sulawesi, hampir aja kemasukan asap, untung cuman bagian desanya. Ngga enak banget kalo sekolah di kelilingi asap, pas pulang jadi kayak ayam asap gitu.

    Tapi, gue turut prihatin sama beberapa kota yang dilanda musibah ini~

    ReplyDelete
  3. aku punya penyakit asma. 2 menit disamping perokok aja gw udah sesak selama seminggu. aku gak bisa bayangin kalo tinggal di daerah yang kena musibah kabut asap itu. dan aku heran masih sempat2nya kemaren ada yang bilang masih di dalam kondisi aman. aman apanya? iya aman buat orang jawa sumatera sperti yang kamu bilang. . . . huvt

    buat orang2 yang sudah berusaha membantu entah dengan masker atau doa , semoga kebaikan selalu bersama mereka :)

    ReplyDelete
  4. Tetangga gue bakar sampah yang asapnya masuk rumah aja, gue udah pusing dan ngomel-ngomel, apalagi tiap hari ngadepin asap... Gila bener tu orang yang bakar-bakar sampe menyebabkan kematian... semoga cepet selesai deh masalah ini dan nggak ada masalah yang sama lagi. Nggak ada yang buang rokok sembarangan dan bakar-bakar seenaknya... :(

    ReplyDelete
  5. Ikut seneng baca kabarnya. Semoga hal yang serupa nggak terjadi lagi di samarinda dan dimana aja. Sempet terharu juga baca yang paragraf akhir-akhir. Seneng lah baca postingan ini. Dapet pelajaran juga. Makasih lho kuh.

    ReplyDelete
  6. Lebih kurang dengan Pekanbaru juga ya. Gue kuliah di Pekanbaru, dan sudah hampir 3 tahun merasakan yang namanya "bencana" asap ini. Satu hal yang gue rindu sewaktu kabut asap masih pekat adalah, langit biru pekanbaru. Hampir 2 bulan gue cuma ngelihat langit warnanya abu-abu mulu. Tapi sekarang, udah masuk november, hujan udah mulai turun. Ya, lebih kurang sama dengan kota lo deh kuh. Udah hilang asapnya.

    ReplyDelete
  7. Untung asapnya sekarang udah reda. Tapi kasihan juga kalo setiap tahun mesti kena kejadian yang sama berulang-ulang.

    Emang bener kata-kata itu, sesuatu yang ada didekat kita baru akan terasa berharga kalo kita kehilangannya. Seperti yang lu alami, kehilangan pemandangan yang setiap hari lu lihat. Dan pas lihat kembali, semuanya terasa lebih indah.

    ReplyDelete
  8. palembang juga udah ujan. di awal november ni juga sekarang aja lagi hujan sama kayak kemarin juga hujan

    ReplyDelete
  9. Terharuuuu. Persis perasaanku jg waktu pertama kali liat langit biru lagi setelah asap asapan kemaren :')

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.