Cuci Motor, MMA Samarinda dan IP Semester Lima

Kalau melihat kalender akademik dan resolusi, 2017 pasti menjadi tahun yang padat. Artinya, kalau blog ini difungsikan seperti tahun 2016 kemaren maka tulisan yang berhasil dipublikasikan pasti nggak sampai 10 post lagi dengan alasan sibuk. Tapi kalau bersembuyi dengan alasan itu, sampai kapanpun blog ini bakalan begini-begini aja. 

Jawaban supaya blog ini bisa rutin di-update lagi akhirnya kutemukan setelah terinspirasi dari banyaknya vlog yang bertebaran di YouTube. Mulai minggu ini aku juga mulai bikin semacam vlog, tapi dalam bentuk tulisan. Karena aku sendiri nggak berminat untuk jadi vlogger. Selain nggak punya kamera vlogging, aku juga nggak sepede itu diliatin orang karena ketahuan merekam diri sendiri.
Jadi saat ada waktu luang beberapa menit dan kondisinya memungkinkan, aku langsung mencatat apa aja kejadian menarik sepanjang hari di dalam aplikasi catatan, terus di akhir minggunya akan digabungkan dalam satu postingan blog. Harapannya, di masa depan nanti aku sudah punya banyak dokumentasi yang siap dibaca. Oke, ini adalah rangkuman kegiatan seminggu yang lalu.

Sabtu,  21 Januari

Untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun aku kembali merawat motorku. Walaupun sekarang berstatus sebagai wartawan yang sering menulis berita di halaman otomotif, prinsipku dalam merawat motor tetap sama: 

Selama masih bisa jalan, berarti nggak kenapa-kenapa. 

Begitu pertama kali masuk bengkel, dugaanku benar. Motorku langsung minta macam-macam. Dari mulai charge aki, ganti oli dan servis mesin. 80 ribu aku habiskan di bengkel.

Mesin sudah oke, tujuan selanjutnya adalah ke pencucian motor. Aku ingat, terakhir kali motorku dicuci adalah sehari sebelum lebaran Idul Fitri tahun lalu, tanggal 5 Juli 2016. Artinya sudah 6 bulan 17 hari semenjak motor ini terakhir kali dibersihkan. Debu-debu yang berada di motorku berkumpul menjadi pasir, lalu pasir-pasir yang menumpuk  sudah menjadi tanah di motorku. Padahal aku tau mencuci motor itu penting, karena kalau nggak mencucinya bisa menyebabkan karatan, kerangka motor jadi rapuh dan cepat korosi. Begitu kata narasumberku waktu itu.

Waktu menunjukkan pukul 10 saat aku tiba di pencucian. Masih sepi, mungkin aku adalah orang pertama yang jadi pelanggannya. Untung Masnya nggak ada ngomong apa-apa begitu melihat motorku, ekspresi wajahnya juga biasa aja. Haha! Dia nggak tau aja dengan rekor motor ini.

Selanjutnya aku menuju daerah Teluk Lerong untuk mengganti kulit jok motor. Yoi, semenjak beberapa bulan kebelakang jok motorku sudah sobek dan semakin melebar setiap harinya. Mungkin karena termakan usia, tapi kemungkinan besarnya karena pantatku lebih tajam dibandingkan orang normal lainnya.

"Yang ini 60 ribu, yang bagus 110.000 tapi yang kayak begini 80 aja," sebut bapak-bapak penjual kulit jok motor.

Katanya, yang paling mahal itu bahannya dari jok mobil, sementara jok yang kupakai dan nggak pernah diganti dari pertama kali beli ini harganya 60 ribuan. Jadi pilihanku jatuh kepada jok polos 80 ribu dengan iming-iming lebih elastis dan tahan terhadap pantat tajam.



Ternyata rumit juga ganti kulit jok. Pertama harus buka ceklekannya dulu supaya jok lama bisa lepas, terus menambal busa yang bolong, baru dipasang jok baru dan di ceklek lagi. Setelah setengah jam menunggu, jok baru sudah resmi terpasang di sepeda motorku.

Oli dan kulit jok sudah diganti, mesin sudah diperbaiki, starter motor sudah nyala kembali, motor sudah dicuci. Aku memacu motorku kembali ke rumah. Setelah kondisi motor serasa kembali baru, yang aku rasakan adalah: biasa aja. Ternyata memperbaiki motor nggak membuat aku begitu bahagia.


Minggu, 22 Januari

Pagi ini, sebelum berangkat siaran pagi aku buka Facebook. Di halaman paling depan, tertulis empat orang teman yang membagikan kiriman berjudul "Samarinda Isinya juga Manusia." Video itu sebenarnya sudah aku lihat sejak tadi malam, tapi sampai pagi hari video itu semakin banyak yang membagikannya, aku penasaran.

Jumlah viewers video itu sudah ditonton lebih dari 700 kali. Waktu publikasinya baru sekitar 17 jam yang lalu. Saat aku tonton ternyata itu adalah sebuah puisi karya Wawal, tapi dibacakan oleh kak Anisa. Kelihatannya itu adalah project untuk menyambut hari hari jadi kota Samarinda yang ke 349. Walaupun bukan pencinta sastra, tapi puisi dan videonya memang keren banget sih. Ini link kalau pengen nonton.






Senin, 23 Januari

Setelah wawancara pukul 10 pagi, aku langsung menuju bank BNI untuk membayar uang kuliah. Ternyata di sana sudah banyak yang ingin membayar UKT. Jumlah antreannya lebih dari 30 orang saat aku ingin mengambil karcis. Supaya nggak bosan, sambil menunggu aku memilih untuk transkip rekaman yang ada di daftar voice recording Galaxy S6 ku. Pagi yang benar-benar efisien.

Pagi berganti menjadi siang, aku sudah berada di SCP untuk nonton Lala Land. Aku bersama Adeya yang berhasil kupaksa untuk nonton film yang minggu ini ramai dibicarakan di Twitter dan di Path. Saat film diputar, aku langsung menyesal karena hampir 1/3 isi filmnya cuman nyanyi-nyanyi aja. Apapun aktivitas yang dilakukan pemeran utamanya selalu diiringi dengan lagu. Aku merasa ditipu orang-orang di sosial media.

Saat film selesai, tersisa 1 jam lagi sebelum aku menepati janji untuk wawancara di MMA Samarinda. Aku selalu senang saat dapat tugas liputan ke sini. Karena saat baru sampai di depan pintu masuk, mood langsung melonjak naik begitu melihat tulisanku berjejer rapi di depan pintu. Selesai aku selesai wawancara dan fotografer memotret peragaan, seluruh member dan wartawan selalu di ajak foto bareng. Aku merasa hasrat masa kecil untuk jadi artis terpuaskan di sini.

Kayak begini nih yang bikin senang.

#PetinjuBerkemeja

Selasa, 24 Januari

Nggak ada yang terlalu spesial Selasa ini.

Rabu, 25 Januari

Hari ini seluruh nilai semester lima sudah keluar.  Hasilnya nggak bisa dibilang luar biasa, tapi sudah cukup untuk mencontreng salah satu resolusi tahun ini. Total nilai yang tercetak di indeks prestasi (IP) adalah 3,67. Nilai ini sudah lebih baik kalau dibandingkan dengan semester 1, 2 dan 3. Meskipun masih kalah kalau disejajarkan dengan semester nilai empat yang nilainya memang terlalu tinggi.

Aku sendiri cukup puas dengan hasilnya. Apalagi kalau mengingat semester lima dilalui dengan terseok-seok. Di Semester ini, untuk pertama kalinya aku kuliah sambil jadi wartawan, pertama kali juga mengambil tanggung jawab sebagai koordinator divisi acara di mata kuliah Event organizer.

Semester depan tantangannya pasti akan semakin besar. Ada sembilan mata kuliah yang harus dijalani. Kemungkinan untuk menjadi gila pasti akan semakin besar saat minggu-minggu ujian tengah dan akhir semester.

Kamis, 26 Januari

Deadline berita sudah selesai pukul satu dini hari. Artinya, seharian ini aku sudah bisa santai-santai dan bebas melakukan apapun yang aku mau. Yeah!

Comments