Kemurnian Hati Dokter

Rabu, 1 Februari 2017. Hari ini kuliah semester enam resmi dimulai. Berdasarkan jadwal dari pengumuman akademik, kelasku masuk pukul delapan sampai 9.30 pagi. Jeda, kemudian mulai kembali pukul 11.

Di sela waktu jeda itu, aku memanfaatkannya dengan wawancara. Narasumberku kali ini adalah seorang dokter spesialis syaraf dari sebuah rumah sakit ternama di Samarinda. Dosen yang tidak hadir di mingu pertamanya membuatku datang lebih cepat dari yang sudah dijanjikan.

Hari itu dia mengenakan jas berwarna putih dengan pin nama di salah satu sisi dadanya, mungkin setiap hari dia berpakaian begitu. Kaca mata tebal di depan matanya tetap stabil saat dia berbicara. Aku langsung dipersilahkan masuk ke salah satu ruangan eksklusif di sana. Sebuah ruangan besar yang bukan untuk pasien.

Aku mulai wawancara. Seperti kebanyakan dokter yang sudah paham betul dengan materinya, dia mulai menjelaskan banyak hal tanpa perlu kutanya terlalu banyak. Narasumber kayak gini yang aku suka, jadi materi untuk aku tulisanku lebih berisi. Apalagi aku juga nggak terlalu ngerti dengan masalah syaraf dan kedokteran.

Dia adalah salah satu narasumber paling luwes yang kukenal. Bahkan saat wawancara selesai, kami masih berbincang seolah sudah sering bertemu sebelumnya. Aku sudah mematikan rekaman dan kami mengganti topik wawancara, walaupun pada awalnya masih soal kesehatan. Perlahan, topik melebar dan dia menjelaskan kesibukannya.

Bagi seorang dokter, waktu sangat berharga. Sebagai dokter spesialis syaraf, dia mengabdi kepada dua rumah sakit, satu apotek dan juga dosen di fakultas kedokteran universitas terbesar di Kaltim. Berangkat pagi, pulang rumah tengah malam. Begitu terus setiap hari. Menurutnya, waktu bukanlah uang, tetapi waktu adalah ibadah, itu kesimpulan yang aku dapatkan dari ucapannya.

Mungkin kalau motivasinya adalah uang, dia sudah bosan dengan kesibukan itu sejak dulu. Orang nggak perlu terlalu kaya untuk bisa membeli apa yang diinginkan. Kalau uang sudah cukup, mendingan juga di rumah sambil foya-foya. Tetapi dia mengatakan kalau kalau niatnya melakukan semua itu adalah ibadah. Ada rasa senang ketika sudah berhasil mendidik mahasiswanya hingga sukses, atau setiap pasiennya merasa baikan dan sembuh.

Mungkin inilah hati seorang dokter. Ingin menolong sesama manusia untuk menjadi lebih sehat dengan mengesampingkan materi. Mudah-mudahan semua dokter seperti ini.

Comments