Mewawancarai Idola


2 Februari. Ide untuk mewawancarai pemain bola sudah terlintas sejak pertama kali ditugaskan menjadi reporter halaman workout. Pemain-pemain dari PBFC menjadi target utamanya. Lebih spesifiknya, Ponaryo Astaman. Sepuluh tahun yang lalu adalah perkenalanku dengan dunia sepak bola, saat itu bertepatan dengan kompetisi AFC Cup 2007. Berbekal tabloid Soccer edisi khusus, aku mengenalnya sebagai pemain timnas Indonesia.


Pekan ini adalah saatnya. Sosial media resmi PBFC sudah rutin mengabarkan program latihan mereka sejak beberapa minggu lalu. Sementara beberapa minggu ke depan, tim berjuluk Pesut Etam itu akan berangkat ke Singapura untuk serangkaian uji coba pramusim. Redaktur sudah menyetujui ideku tentang "Rahasia menjaga kebugaran ala legenda sepak bola Indonesia."



Rencana berjalan dengan semestinya. Setelah PBFC selesai bertanding melawan PBFC (baca postingan sebelumnya), aku berinisiatif untuk mencari keberadaan Ponaryo. Berkat bantuan wartawan olahraga yang hari itu sedang meliput, dengan mudah aku langsung bertemu dengannya.


"Saya Kukuh mas, dari Kaltim Post," lalu kami berjabat tangan.

Aku menjelaskan konsep tulisan yang membutuhkan dia sebagai narasumberku. Satu berita tentang rahasia menjaga stamina, satu tulisan profil, serta sesi foto untuk infografis tulisan. Bergemetar suaraku begitu berbicara langsung dengan idola sendiri. 


Sepuluh tahun lalu aku hanya bisa melihatnya di TV. Menyaksikan Ponaryo Astaman beserta pemain lainnya bermain bola dengan lambang garuda di dada. Belum lama rasanya sejak terakhir kali aku membeli tabloid Soccer dan membaca hasil wawancara antara wartawan dan pesepak bolaBesok, aku berada di posisi wartawan yang bebas menanyakan apapun semauku untuk berita yang akan kutulis.

3 Februari. List pertanyaan sudah tersimpan di Google Keep. Sesuai janji yang sudah disepakati, aku kembali bersalaman dengannya pukul tiga sore lebih sedikit. Fotografer memulai tugasnya untuk memotret peragaan dan foto utama yang nantinya akan tercetak ribuan kopi. Setelahnya, aku mengajak dia berfoto bareng. 



Beberapa jam kemudian, setelah sesi latihan PBFC, aku kembali mendatanginya untuk wawancara. Sekarang adalah saatnya untuk bertanya apa saja yang selama ini hanya jadi rasa penasaran, perasaan canggung berganti jadi semangat. Aku bertanya apapun sampai kehabisan bahan pertanyaan, sengaja mengulur waktu dengan pertanyaan sebanyak mungkin.

Sepuluh tahun yang lalu, mana pernah terbayangkan kalau hari ini aku bisa mewawancarainya. Tapi ini memang kenikmatan seorang wartawan. Punya akses terhadap banyak tempat, dan bisa mewujudkan untuk ngobrol dengan siapapun orang yang ingin ditemui dengan embel-embel "untuk bahan berita

Untuk kamu yang mau baca tulisannya, silakan beli koran Kaltim Post edisi Minggu, 12 Februari 2017 di halaman 29, atau bisa juga membacanya melalui halaman epaper.kaltimpost.co.id atau prokal.co


Comments