Membuat Lapangan – KKN Hari ke 28


Rabu, 26 Juli 2017
Di bawah pohon setelah menanam jagung, Pak Tarmidi bilang, 17 Agustus nanti adalah momen tepat untuk membangkitkan semangat olahraga di RT 12. Olahraga populer di sini adalah sepak takraw dan bola voli, tetapi sudah jarang dimainkan karena nggak punya lapangan. Pria yang baru dilantik sebagai ketua RT dua minggu lalu itu memiliki tekad, membangun sebuah lapangan takraw dan voli di dalam lingkungan RT-nya. Bahkan beliau akan memodali biaya pembelian jaring, bola dan peralatan pendukung lainnya.

Hari Jumat nanti saya ajak semua warga buat gotong royong membangun lapangannya. Lahan sudah ada tinggal ditebas aja rumputnya. Kata Pak Tarmidi semangat.

Kalau kita mungkin nggak bisa lagi main-main begitu, sudah tua, kata Pak Tarmidi sambil ketawa. Selang beberapa detik kemudian, dia menyambung. Tapi kalau anak-anak kita nggak bisa main karena nggak punya lapangan, itu salah kita.

Jumat, 28 Juli 2017
Kami anak-anak KKN berada di lapangan pada pagi hari. Saat kami datang, setidaknya sudah hadir sekitar 20 orang bapak-bapak dan pemuda yang sedang membereskan lapangan. Mereka membawa cangkul, mesin pemotong rumput dan alat-alat kerja bakti lainnya. Sementara kami datang dengan bekal catatan ukuran lapangan berstandar internasional yang sumbernya kami dapatkan dari Google. Pak Tarmidi yang mengenali almamater kami langsung melambaikan tangan supaya kami cepat ke sana.

Nah ini, mereka tahu Pak ukuran lapangan standar internasional, kata Pak Tarmidi kepada warga sekitar, kami jadi sungkan. Ayo makan-makan dulu, katanya kepada kami.


Setelah menyantap dua potong Nissin crackers, sebuah Roma biskuit kelapa dan sirup jeruk, kami berjalan menuju tempat yang nantinya akan menjadi lapangan. Dery mengambil meteran bangunan, Dede membuka smartphone-nya dan menyebutkan ukuran lapangan takraw. Bersama-sama kami mengukur batas-batas lapangan.


Di sini, gotong royong benar-benar seperti apa yang diajarkan guru mata pelajaran PKN saat SD dulu. Ada bapak-bapak yang memotong rumput menggunakan mesin, ada yang ngebor tanah untuk menancapkan tiang, sebagian lagi fokus mencangkul batu-batu besar untuk membuat tanah lebih rata. Tentu saja aku, Wawal dan Dery nggak bisa melakukan itu semua. Jadi kami mengambil pekerjaan yang payah aja seperti membuang rumput-rumput yang sudah dipotong.


Kami selesai sekitar pukul 11 lebih karena sebentar lagi sholat Jumat, sebenarnya lapangan belum sepenuhnya jadi, tetapi tinggal menyesuaikan tinggi jaring dan memasang garis yang terbuat dari bentangan bambu. Pak Tarmidi benar-benar berterima kasih kepada kami karena bisa datang dan membantu pembangunannya sampai selesai, terutama masalah ukuran lapangan. Rencananya tadi beliau mau traktir nasi Padang, tapi waktunya sudah nggak memungkinkan lagi. Pokoknya kalau butuh bantuan langsung telepon aja, pintu rumah selalu terbuka untuk kalian, kata beliau.



Aku senang dan merasa bangga ketika selesai membangun lapangan. Aku jadi teringat percakapanku bersama seorang pemuda di warung Jasjus setelah sepak bola kandang sapi beberapa waktu kemarin. Menurutnya, cara mengurangi kenakalan remaja ya dengan menghadirkan lapangan terbuka untuk umum, yang semua boleh menggunakannya secara gratis asal bertanggung jawab. Dengan begitu, kenakalan remaja bisa dikurangi karena remajanya sibuk olahraga. Masuk akal juga.

Nanti sore ayo langsung takraw, kata seorang warga. Yang lainnya setuju. Sepertinya stamina masyarakat di sini jauh lebih kuat, padahal beberapa menit lalu baru selesai mencangkul tanah. 

Nanti saya tarik kabel listrik ke sini, jadi bisa terang kalau malam, kata Pak Tarmidi mendukung.

Sampai kembali ke posko, rasa senang itu belum juga habis. Aku membayangkan anak-anak bisa saling bermain dan berinteraksi bersama anak lainnya di lapangan baru mereka, menghindari kebiasaan menatap layar tablet seperti kebanyakan anak-anak di perkotaan. Mereka senang sampai nggak pernah mempertanyakan siapa-siapa saja yang membuat lapangannya, persis seperti saat aku kecil bermain bola di lapangan voli belakang rumah.

Aku juga membayangkan, suatu saat nanti, ketika aku berada di perjalanan dari Samarinda menuju Sangatta (kebetulan ada keluarga yang tinggal di sana), aku kembali melihat lapangan ini lagi, mudah-mudahan masih berdiri dan tetap bermanfaat. Mungkin saat melintasinya, aku bakal bergumam kepada diri sendiri. Di hari pembuatan lapangan ini, aku salah satu yang berada di sana.



Comments