Pulang Sebentar – KKN Hari ke 13-17

Kamis, 13 Juli 2017
Sekitar pukul 12 siang, aku bersama Wawal dan Dery sudah berada di Terminal Bontang. Bus yang tersedia untuk jurusan Samarinda saat itu bernama  Sapu Lidi, sebuah bus kecil berkapasitas 20 orang. Jarak antar kursi penumpang sangat sempit (bahkan hampir nggak ada), setidaknya membuat lutut menempel dengan kursi di depannya. Di bagian eksterior mobil terdapat ornamen naga yang sedang menjulurkan lidah dengan mata terbuka. Aku sendiri nggak tahu apa hubungan bus, naga dan sapu lidi. Mungkin supirnya juga, toh nggak semua hal kita perlu jawabannya.


Dede, anak asli Bontang yang sering menggunakan jasa bus antar kota bilang, belum afdal rasanya naik bus Bontang-Samarinda kalau belum naik Sapu Lidi. Kami yang baru pertama kali naik bus menjadi antusias dan langsung membeli tiket supaya menjadi penumpang bus yang mabrur. Aku memilih kursi paling depan karena di sanalah satu-satunya tempat yang memungkinkan kaki selonjoran seperti naik Garuda Indonesia.



Penumpang sudah mulai penuh dan mereka kembali ke Samarinda untuk tujuannya masing-masing. Aku, Wawal dan Dery kembali ke Kota Tepian dengan alasan menyusun dan mengumpulkan kartu rencana studi semester depan. Kami izin selama empat hari, meskipun aku yakin kalau urusannya akan selesai dalam satu hari.

Bus baru berangkat ketika penumpang sudah penuh, aku memasang earphone untuk mendengarkan lagu meskipun sebenarnya nggak terlalu pengen. Sempat tertidur setengah jam, lalu terbangun saat Sapu Lidi menabrak lubang cukup dalam. Perjalanan Bontang-Samarinda biasanya menghabiskan waktu selama tiga jam, tetapi dalam dua jam Sapu Lidi sudah berhasil sampai tujuan.

Minggu, 17 Juli 2017
Aku pamit kepada orang rumah. Tiga malam tidur di ranjang sendiri jelas lebih nikmat dibanding karpet ruang tamu di posko, berbagai kegiatan aku lakukan untuk hiburan. Hari Jumat pagi aku ke kampus mencari tanda tangan dari dosen pembimbing, seperti prediksi awal, semua selesai dalam satu hari. Lalu malamnya menonton Filosofi Kopi 2 bersama Adeya. Sabtu aku janjian dengan Bang Saw di salah satu cafe hits untuk menggandakan serial TV bajakan yang harapannya akan berguna ketika bosan di posko.

Siang ini sebelum ke terminal, aku makan mie ayam di Jalan Perjuangan bersama Adeya. Perjanjiannya, pukul tiga sudah harus sampai terminal. Aku dan Adeya makan sambil ngobrol, lalu saat mie ayam bakso yang kumakan sisa kuahnya, hujan datang dengan deras. Kuhubungi Wawal ternyata dia masih di Jalan Abdul Wahab Sjahranie. Otomatis kami berdua memundurkan waktu sampai hujan berhenti.

Sampai pukul lima hujan belum juga usai, menurut sumber yang bisa dipercaya, bus terakhir ke Bontang adalah pukul empat sore. Jadi sudah nggak mungkin buat ke Desa Teluk Pandan menggunakan bus hari ini, kecuali menggunakan mobil travel yang harganya lebih mahal. Di senja dingin setelah hujan, aku kembali ke rumah. Menunda perjalanan.

Senin, 17 Juli 2017
Kami otw betulan pukul sembilan lebih 30 menit. Otw betulan adalah istilahku dengan Wawal yang menandakan kalau kami sedang berada di perjalanan, sementara otw artinya baru mau mandi. Otw betulan tercipta karena saat itu kami sering melakukan kecurangan saat menggunakan kata otw seperti baru mau mandi atau baru bangun tidur. Sampai sejauh ini belum ada kecurangan di kata otw betulan, karena kami menghindari munculnya istilah otw betulan betulan di masa depan.


Kami sampai terminal pada setengah 11. Langsung membeli tiket lewat kernet yang katanya kalau kami masuk, bus langsung berangkat. Kali ini bus cukup besar dan memiliki AC. Wawal duduk di barisan paling belakang, sementara aku mendapatkan satu kursi yang sebelahnya sudah ada orang.

Masalahnya, orang yang berada di sebelahku ini adalah om om berbadan gemuk dan begitu aku duduk langsung tercium bau yang aneh. Aku nggak bilang bau aneh itu datang dari omnya, tetapi bisa jadi demikian. Posisinya sudah off-side sehingga satu kakiku berada di koridor bus. Saat bus sudah berjalan satu jam, dia tertidur, aku takut tertindih.



Aku dan Wawal turun tepat di depan posko sekitar pukul tiga, bubuhan yang lain sedang berkegiatan di luar. Jadi kami langsung berganti baju, mematikan lampu kamar dan tidur hingga terbangun sore hari. Dery baru pulang besok karena KRS-nya belum selesai. Mungkin betul, tapi mungkin juga dia sengaja memperlambat agar bisa tidur di rumah lebih lama.

Comments