RT Lintas Hutan – KKN hari ke 11

Selasa, 11 Juli 2017

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, RT di Desa Teluk Pandan hanya berurutan sampai angka ke 8, sisanya harus dicari sendiri. Hari ini kami bertandang ke RT 11 yang sepertinya adalah wilayah paling menantang, letaknya di tengah hutan dan sedikit lagi sampai Bontang.

Kata Mba Ani, anak dari ketua RT 11 yang hari Senin lalu ketemu di kantor kepala desa bilang kalau sebaiknya lewat Kelurahan Guntung kota Bontang saja. Dede, anggota kelompok yang asli orang Bontang memimpin jalan dengan membonceng Ira. Dery sendirian, sementara aku bersama Wawal. Setelah sampai di kelurahan yang dimaksud, kami kembali menelepon Mba Ani untuk menanyakan petunjuk berikutnya.


Jalan yang awalnya aspal dan pemukiman warga mulai berganti menjadi tanah dan kawasan perkebunan. Kalau ada kali kecil di tengah jalan, terdapat jembatan dari beberapa batang kayu yang dijejerkan. Nggak banyak orang lewat sini, tetapi kami yakin sudah berjalan mengikuti instruksi. Kemungkinan besar ini sudah jalan menuju Desa Teluk Pandan. Jalanannya cukup licin, bahkan membuat motor Ira dan Dede sempat tergelincir, jadi formasi motor diganti menjadi aku-Dede, Dery-Ira dan Wawal sendirian.


Kami sampai ke rumah yang dituju beberapa menit kemudian, ternyata Pak RT 11 sedang nggak ada di rumah karena bekerja di rumah sakit PKT Bontang, jadi kami hanya bertemu Bu RT dan menjelaskan mengenai kegiatan pemetaan sosial. Bu RT menyambut dengan sangat baik, gaya bahasanya halus dan kami dihidangkan apapun yang ada di rumahnya. Aqua botol tanggung, teh manis, pisang goreng dan makanan ringan dihidangkan semuanya, seolah tahu kalau tamunya ini belum terbiasa dengan akses jalan di sini.

Katanya, infrastruktur di RT 11 memang masih sulit, listrik aja masih dari genset yang bahan bakarnya patungan Rp 150.000 per bulan untuk tiap rumah. Itu juga cuman nyala dari jam enam sore sampai jam 10 malam saja. Sebenarnya PLN sempat berencana masuk, tetapi katanya jumlah warganya masih kurang. Waktu di mana PLN menyala hanya dimanfaatkan untuk menyalakan lampu, mengisi baterai gadget, pompa air, mesin cuci dan TV untuk anak-anak.

Pulangnya daripada lewat Bontang, bisa juga lewat situ, ujar Mba Ani menunjuk jalan setapak yang hanya bisa dilewati satu motor. Lebih dekat, tapi lewat perkebunan sawit, tambahnya.

Katanya, lewat sana juga aman. Selama wara-wiri lintas desa dia belum pernah bertemu binatang lain selain serangga. Jadi kami mencoba mengikuti saran Mba Ani dengan ketiga laki-laki sebagai pengendaranya.

Motor kami menyusuri jalan setapak, satu meter di sampingnya sudah ada berbagai macam tanaman yang aku sendiri nggak tau apa jenisnya. Kadang daun-daunnya bersentuhan langsung dengan tubuh. Untung semuanya pakai almamater dan celana panjang, jadi bisa melindungi rumput gatal. Helm yang kami gunakan juga bisa berfungsi sebagai penanduk rumput tinggi atau daun sawit yang berada di dekat kepala.


Jalan yang dilewati ternyata nggak sekadar lurus-lurus saja. Sepanjang perjalanan ternyata ada beberapa pilihan jalan yang kalau salah satu saja saja bisa tersesat. Jadi kami memilih jalan menggunakan insting yang menurut Profesor Marius Usher dari Tel Aviv University 90% akurat. Mungkin semuanya takut, tapi saling menyembunyikannya. Setiap bertemu rumah kami langsung bertanya dan minta diarahkan, sampai akhirnya... kembali ke rumah mba Ani. Jadi kami tadi hanya berputar mengelilinginya sebagian hutan saja.

Kami pamit untuk kedua kalinya. Kali ini mau lewat Bontang saja, tetapi Mba Ani justru mengambil motor dan berniat mengantarkan ke desa teluk pandan lewat hutan lagi. Sebenarnya kami sudah menolak karena sedikit jera, tapi katanya nggak papa. Jadilah kami berkelana melintasi hutan untuk kedua kalinya. Wawal berada di berada di barisan paling depan, diikuti aku dan Dede sementara Dery dan Ira paling belakang.

Ternyata jalanan yang dilewati lebih banyak belokan, aku jadi bersyukur karena kami berputar lagi ke titik awal dan nggak jadi tersesat di hutan. Bisa jadi keberuntungan ini disebabkan bismillah yang kulontarkan sebelum perjalanan dan surah-surah pendek yang Dede bacakan sepanjang perjalanan. Jalanan berkelok berhasil ditaklukkan, pohon sawit yang mulai berbuah kami lewati. Sebuah perjalanan ini menantang, sekaligus menyenangkan.


Sekitar setengah jam setelah Mba Ani menunjukkan jalan, dia pamit kembali pulang ke rumah. Kami bersalaman dan mengucapkan terima kasih. Katanya, jalannya tinggal lurus-lurus saja untuk tembus ke kantor camat Desa Teluk Pandan. Wawal yang memimpin perjalanan diberikan instruksi khusus, sementara aku di belakang tinggal mengikutinya saja.

Baru beberapa menit dari kembalinya Mba Ani ke rumah, Wawal  sudah tergelincir ke dalam jalan berlumpur. Dia gas motornya sampai amblas, nggak bisa keluar. Dicobanya lagi gas motornya semakin kuat, tapi motornya malah menggali lumpur. Untung motornya adalah Honda Beat, jadi orang kurus seperti aku dan Dery bisa mengangkatnya keluar.


Di penghujung perjalanan, kami mendapati jalan lumpur berbau air parit yang nyaris mustahil dilewati. Percobaan pertama kami langsung melintasinya saja, tetapi gagal dan motor Wawal yang dipakai sebagai percobaan kembali ditarik keluar lumpur. Lalu kami menyusun batu dan kayu untuk jadi jembatan. Aku sebagai orang yang tertinggi di kelompok coba melintasi motor dengan kedua kaki memijak lumpur. Berhasil!


Ketika semua motor berhasil melewati kubangan lumpur, ada seorang bapak, ibu dan anaknya yang juga menyeberang jembatan. Kami ingin membantu tetapi katanya nggak usah, dia minta kami tinggal saja. Beberapa menit kemudian keluarga tersebut sudah kembali berada di belakang kami, seolah lumpur tadi hanyalah becek yang gampang dilewati. Mungkin bagi mereka, rintangan ini masih terlalu cupu.

Hanya berjarak dua tanjakan dari lumpur, kami sampai ke kantor camat. Merdeka rasanya, melakukan off road tapi tanpa persiapan apapun. Meskipun akhirnya kaki penuh lumpur dan badan gatal-gatal, aku sendiri nggak merasa menyesal karena bisa mendapatkan pengalaman baru yang belum tentu didapatkan di kota. Kalau dihitung-hitung waktu tempuh lewat hutan dan mutar lewat kota Bontang juga nggak jauh beda, cuman jaraknya saja lebih dekat. Jadi untuk pemetaan sosial di RT 11 berikutnya, kami mantap lewat Bontang saja.

Comments