Sepatu jadi kapal


Sore ini seusai siaran aku pulang pukul enam. Hujan deras disertai petir sudah membasahi kota sejak dua jam lalu, sampai-sampai aku diinstruksikan untuk mematikan pemancar radio.

Sebenarnya bisa saja menunda pulang lebih lama, tapi aku nggak membawa makanan berbuka, jadi kupikir nggak masalah untuk berbuka di jalan, yang penting lebih cepat sampai rumah.

Keputusan itu ternyata membawa celaka. Untuk lolos dari jalan anggur saja aku membutuhkan waktu lebih dari 5 lagu, padahal biasanya sudah berhasil melewatinya bahkan ketika penyanyi masih membawakan intro lagu pertama. Macet parah karena tak ada yang mengalah jadi penyebabnya. 

Lepas dari Jalan Anggur, aku justru seperti semut yang terkurung dalam gelas terbalik. Buntu. Bingung mau ke mana. Untuk sampai rumah, biasanya aku lewat Jalan juanda, tapi di bawah fly over aja banjir sudah mencegat kira-kira setinggi lutut. 

Putar balik, ternyata di perempatan Jalan Dokter Soetomo sama aja, hanya mobil tambang yang berani lewat. Kulihat motor-motor parkir karena takut. Berarti satu-satunya jalan ya lewat anggur, tapi sepertinya butuh satu jam untuk menembusnya. Suara ariana grande bisa serak begitu aku sampai rumah. 

Jadi, kuputuskan untuk mengungsi ke sebuah lapak pedagang kaki lima yang menjual lumpia panas. Aku beli dua untuk berbuka. Selanjutnya pergi ke masjid Jami' Al Ma'ruf depan Mal Lembuswana yang untuk sampai ke sana perlu membuat sepatu menjadi kapal. Dan di sinilah tulisan ini diterbitkan.

Komentar

  1. Sebenarnya Jalan Anggur banyak jalan pintasnya (bahkan ada yg tembus ke rumahku), tapi sama aja sih, banjir juga di dalam nya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.