Hati (tidak) Overrated


Belakangan aku sering membaca tulisan yang bilang kalau hati itu overrated. Masih banyak yang lebih penting dari itu, dan seharusnya kita tidak perlu mengikuti perasaan yang selalu berubah-ubah. Jadilah produktif dan buang perasaan negatif dalam diri. Hore!

Dasar sampah.

Siapapun yang setuju dengan ungkapan bahwa hati overrated bisa dijamin kalau hatinya tidak sedang kenapa-kenapa. Tidak ada gunanya berkampanye soal hati overrated kepada orang yang baru saja dicurangi dalam hubungan. Sama seperti berteriak jauhi narkoba kepada orang yang sedang sakau. Mereka tidak benar-benar mengerti.

Sepertinya itulah jawaban kenapa film dokumenter soal isu penyelamatan bumi yang keren bisa kalah dengan kisah drama saudagar sinting yang mengejar cinta perempuan biasa-biasa saja. Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya produser beserta seluruh kru film dokumenter itu, sehingga mereka gembar-gembor soal “Hey, bumi kita sekarat. Ayo tinggalkan masalah percintaanmu dan selamatkan bumi.”

Mungkin tulisan ini bakal terlihat lembek. Karena memang iya. Dan kurasa menjadi lembek untuk beberapa saat bukan masalah besar. Sakit hati sama seriusnya dengan sakit secara fisik. Namun yang menyebalkan adalah saat demam kita bisa menelan parasetamol untuk sembuh lebih cepat, sementara sakit hati hanya bisa disembuhkan dengan waktu atau jatuh cinta lagi. Yang kita tidak tahu kapan salah satunya menghampiri.

Tahi kucing.

Di hari-hari ke depan mungkin aku bakal lebih banyak marah-marah. Entah di blog ini atau di catatan pribadi yang kusimpan sendiri. Aku tahu ini tidak produktif, tapi aku percaya kalau ini bersifat sementara. Semoga sementara yang dimaksud tidak sampai 2019.

Komentar

  1. yang penting jangan tiba-tiba mati

    atau, kita kadang lupa mati bisa datang tanpa diundang

    BalasHapus

Posting Komentar

Kalau sudah dibaca langsung kasih komentar ya. Biar blog ini keliatan banyak yang baca.