Postingan

Membeli Brand

Selama ini aku agak skeptis dengan orang-orang yang mengeluarkan uang lebih banyak demi merek. Padahal kualitasnya mirip-mirip. Di lingkaran pertemananku, Disa, Onel dan Wawal rela membayar lebih demi sepasang sepatu. Kebetulan mereka bertiga punya merek andalan yang sama: Converse.
Aku nggak ngerti dari mana datangnya kepuasan saat membeli Converse. Kesetanan kalau ada diskon. Istilahnya, nggak ada uang pun mereka masih mengusahakannya. Padahal satu dengan yang lainnya hampir nggak ada beda.
“Beda Kuh, yang ini ada talinya di belakang,” kata Onel menjelaskan sepatu All Star edisi bertali.
Kecintaan terhadap brand baru aku rasakan di produk teknologi dari Google dan Microsoft. Itu pun hampir semuanya gratis kecuali lisensi Windows dan Office yang cuman sekali bayar. Sisanya, brand apapun yang penting sesuai kantong dan nyaman dipakai.
Nah, baru kali ini aku rela membayar lebih karena brand, itu juga sebagian ditraktir Adeya dalam rangka anniversary ke dua. Namanya New Balance. Merek ola…

Dicabutnya Gigi

Di sistem BPJS, kalau ada diagnosis berat dan nggak mampu dikerjakan klinik fase pertama, pengobatan akan dirujuk ke fase selanjutnya. Dari klinik Islamic Center, aku diminta memilih antara rumah sakit Dirgahayu atau salah satu rumah sakit yang sama besar.
“Di Dirgahayu bagus, jangan lihat bangunannya, tapi lihat dokternya.”
Betul juga.
Jangan harap cepat selesai kalau berobat di fase tingkat dua. Begitu datang sekitar pukul 10 antrean berada di nomor 100, sementara aku berada di 342. Berdasarkan informasi dari petugas pelayanan, poli dibuka mulai pukul 7 pagi. Dengan perhitungan sederhana bisa disimpulkan kalau butuh tiga jam untuk menyelesaikan 100. Artinya, butuh sekitar 6 jam sampai nomor urutku disebut. Pergilah aku agar tak cepat bosan.
Setelah makan mie pedas mampus bareng Adeya, aku datang kembali pukul tiga, bayar parkir lagi. Kami diminta menunggu satu jam lagi sebelum dipanggil. Tapi begitu aku menyerahkan nomor urut di loket, poli gigi sudah tutup. Katanya pemberitahuan itu s…

Bertumbuh

Senin, 25 Juni 2018
Malam ini, aku datang ke pemutaran film pendek #KinibaluBercerita, sebuah project yang digagas dari Ramadan kemarin. Nggak menyangka rasanya kalau keresahan di tengah malam itu jadi sebuah film dengan kualitas baik dan ditonton orang. Lebih dari itu, aku bahkan nggak pernah kepikiran bakal terlibat dalam sebuah film.
Di sana, aku ketemu sineas muda yang beberapa di antaranya sudah kukenal sejak dulu. Dua di antara mereka, Kak Irvan dan Macit, lima tahun lalu sama-sama di Tepian TV. Sekarang mereka sudah banyak melahirkan film pendek dan bikin Layar Mahakama, komunitas yang di bio Instagram-nya tertulis “Sebuah ruang pemutaran, diskusi dan apresiasi film pendek.”
Menyenangkan rasanya bertemu di kondisi yang sama-sama sedang berkarya. Sama-sama berkembang walaupun beda jalan. Mereka di perfilman, aku terus menulis.
Aku bersyukur sekali karena sudah memulainya sejak kurang lebih enam tahun lalu. Inilah pilihanku, mendokumentasikan pemikiran lewat cerita pendek di blog. …

Tumblr Diblokir

Bukan berita baru kalau Tumblr diblokir di Indonesia. Tapi sedikit informasi, alasannya karena Kominfo menemukan konten negatif di sana. Hebat juga pemerintah kita, aku aja baru tahu.
Menurutku, Tumblr hanya tempat bagi orang yang ingin bercerita tanpa ingin dikomentari. Biasanya, tulisan di sana dipublikasikan, penulisnya lega, lalu ditutup. Tidak dibagikan ke kanal sosial media lain. Kalau ada yang membaca, bukan hal yang lazim berkomentar di sana.
Saat ada berita diblokir (untuk kedua kalinya), aku merasa fine-fine saja. Toh masih banyak telinga lain yang siap mendengarkan. Tapi ternyata aku dan Tumblr seperti anak kelas 5 SD yang baru merasakan nikmatnya tidur siang kalau sedang demam. Hari ini, begitu ada yang mau diceritakan, baru merasa kehilangan.
Memang sih, sebenarnya aku bisa aja buka pakai VPN, tapi rasanya sudah nggak sedekat dulu lagi. Secara fungsional, blog juga lebih dari cukup untuk menggantikannya, tapi Tumblr punya posisinya sendiri.

Istirahat

Senin, 18 Juni 2018
Belakangan ada banyak momen yang terlalu lelah untuk ditulis. Beberapa minggu lalu aku mengubah strategi pemasaran Peptalk Memories dalam campaign mahasiswa KKN Unmul. Kurasa hasilnya begitu efektif, aku jadi lebih sibuk dari sebelumnya. Aku baru bisa pulang ke rumah satu jam sebelum buka puasa. Senang, walaupun bukan karena ada ribuan order, tapi akibat kecilnya kapasitas produksi.
Kadang, kalau cuaca tak mendukung aku harus berhati-hati membawa baju pesanan sambil agar tak basah karena banjir di kota Samarinda sering menggila. Walaupun sedikit ngeluh, tapi aku sadar bahwa semuanya patut disyukuri. Dari campaign ini aku belajar kalau bisnis bukan hanya sekadar pemasaran, ilmu yang selama ini kupelajari di kampus dan mendalaminya di internet. Tetapi bisnis juga soal manajemen, terutama manajemen produksi. Mungkin ada banyak lagi yang harus dipelajari yang aku belum tahu.
Beberapa hari ini tempo kerja sedang menurun. Kantor-kantor dan sebagainya libur serentak untuk me…