Postingan

Hati (tidak) Overrated

Belakangan aku sering membaca tulisan yang bilang kalau hati itu overrated. Masih banyak yang lebih penting dari itu, dan seharusnya kita tidak perlu mengikuti perasaan yang selalu berubah-ubah. Jadilah produktif dan buang perasaan negatif dalam diri. Hore!
Dasar sampah.
Siapapun yang setuju dengan ungkapan bahwa hati overrated bisa dijamin kalau hatinya tidak sedang kenapa-kenapa. Tidak ada gunanya berkampanye soal hati overrated kepada orang yang baru saja dicurangi dalam hubungan. Sama seperti berteriak jauhi narkoba kepada orang yang sedang sakau. Mereka tidak benar-benar mengerti.
Sepertinya itulah jawaban kenapa film dokumenter soal isu penyelamatan bumi yang keren bisa kalah dengan kisah drama saudagar sinting yang mengejar cinta perempuan biasa-biasa saja. Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya produser beserta seluruh kru film dokumenter itu, sehingga mereka gembar-gembor soal “Hey, bumi kita sekarat. Ayo tinggalkan masalah percintaanmu dan selamatkan bumi.”
Mungkin tulisan ini baka…

Kacau

Gambar
Halo siapapun yang membaca tulisan ini. Beberapa hari ini suasana hatiku begitu kacau. Apalagi kemarin. Saking kecewanya lebih dari 500 kata berisi sumpah serapah kuketik untuk meredam emosi supaya nggak lari ke mana-mana. Aku juga melakukan pertemuan darurat dengan sahabatku dan bercerita kepada orang-orang terpercaya. Sistem pertahanan diriku aktif.
Patah hati itu menyakitkan, apalagi karena dicurangi. Ingin marah-marah saja rasanya. Untungnya dalam dua minggu terakhir aku sedikit terbantu. Pertama, Zaky sahabatku dari Makassar datang ke Samarinda karena suatu urusan. Jadi aku dan Wawal (grup kami dinamakan WOOO!) menyambutnya senang hati dan melakukan kebiasaan rutin setiap lengkap bertiga. Selanjutnya, di hari di mana Zaky kembali ke Makassar, aku dan teman-teman kuliah yang tergabung dalam grup Deepweb mengadakan trip ke Balikpapan selama dua hari satu malam yang sudah direncanakan satu bulan sebelumnya, sebelum tragedi ini. Semua seperti berkonspirasi untuk membuatku senang. Aku me…

Tulisan ragu-ragu

Halo blog ini dan orang-orang yang entah dari mana bisa membaca tulisan ini. Beberapa hari yang lalu aku baru mengeluarkan uang sekitar Rp 400 ribu untuk memperpanjang domain ini, jadi cukup disayangkan kalau akhirnya tidak dioptimalkan. Rasanya agak sungkan untuk menulis lagi di blog. Kebanyakan tulisanku mengendap di Microsoft Office OneNote dan diberi password supaya ceritanya tak bisa diakses siapapun (yang tak sengaja terhapus saat mengosongkan dokumen di OneDrive, sampahh!). Ingin rasanya untuk terus basa-basi. Tapi rasanya percuma juga karena cepat atau lambat pasti ketahuan. Oke, jadi begini.. Sekitar dua minggu ini, aku baru saja kehilangan salah satu tempat cerita terbaikku. Hahaha. Sedih juga. Tidak perlu dijelaskan rinci soal itu, tapi ini adalah kabar kurang menyenangkan. --- Dalam situasi kurang menyenangkan seperti ini, aku harus mengaktifkan metode pertahanan diri berlapis supaya tidak terjadi masalah psikis yang aneh-aneh. Semakin besar kekuatannya, semakin merepotkan juga me…

Heal the World

Malam ini tiba-tiba jariku tergerak untuk menulis cerita singkat setelah mendengarkan lagu Heal the World dari Michael Jackson.
Jadi hari ini adalah hari ulang tahun Michael Jackson ke 60, aku tahu dari beranda Spotify yang memberi rekomendasi playlist berjudul “This is: Michael Jackson”. Coba kudengarkan berurutan termasuk Billy Jean dan Love Never Felt so Good, sampai akhirnya mengulang-ulang lagu Heal the World.
Pikiranku terlempar ke masa itu, masa ketika Michael Jackson meninggal akibat gagal jantung karena obat penenang. Di masa itu, aku kira Michael Jackson dan Michael Jordan adalah orang yang sama (waktu itu aku masih anak SMP). Raja pop yang sudah terkenal itu jadi lebih tenar, mp3 nya aku isi di konter dekat rumah.
Yang aku ingat, semua orang tiba-tiba sering nyanyi lagu itu. Katanya hantu Michael Jackson lewat di sebuah gedung di Amerika. Waktu itu, tiba-tiba tetanggaku, Adam Jordan mendadak pengen jadi Michael Jackson. Katanya, dia bisa moon walk dan anti gravitasi tanpa sep…

Membeli Brand

Selama ini aku agak skeptis dengan orang-orang yang mengeluarkan uang lebih banyak demi merek. Padahal kualitasnya mirip-mirip. Di lingkaran pertemananku, Disa, Onel dan Wawal rela membayar lebih demi sepasang sepatu. Kebetulan mereka bertiga punya merek andalan yang sama: Converse.
Aku nggak ngerti dari mana datangnya kepuasan saat membeli Converse. Kesetanan kalau ada diskon. Istilahnya, nggak ada uang pun mereka masih mengusahakannya. Padahal satu dengan yang lainnya hampir nggak ada beda.
“Beda Kuh, yang ini ada talinya di belakang,” kata Onel menjelaskan sepatu All Star edisi bertali.
Kecintaan terhadap brand baru aku rasakan di produk teknologi dari Google dan Microsoft. Itu pun hampir semuanya gratis kecuali lisensi Windows dan Office yang cuman sekali bayar. Sisanya, brand apapun yang penting sesuai kantong dan nyaman dipakai.
Nah, baru kali ini aku rela membayar lebih karena brand, itu juga sebagian ditraktir Adeya dalam rangka anniversary ke dua. Namanya New Balance. Merek ola…